EBuzz – Emiten pertambangan batu bara pelat merah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), terus mematangkan langkah strategis dalam merealisasikan proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.
Proyek mercusuar ini ditargetkan dapat melaksanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada tahun 2026, sebagai bagian dari upaya perseroan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas batu bara sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.

Saat ini, proyek tersebut telah memasuki tahap finalisasi yang mencakup pematangan skema pendanaan, aspek keekonomian, hingga koordinasi intensif dengan badan pengelola investasi Danantara Indonesia.
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto menyatakan bahwa, seluruh elemen teknis di lapangan telah dalam posisi siap untuk memulai konstruksi. Saat ini, perseroan mengikuti arahan dari Danantara terkait keputusan akhir investasi, struktur pendanaan, serta aspek keekonomian proyek yang menjadi fondasi utama keberlanjutan fasilitas tersebut.
“Cadangan batu bara sudah siap, lapangan serta wilayah kawasan juga sudah siap, dan mitra teknologi yang akan dipilih pun sudah diidentifikasi, namun keputusan investasi dan detail lainnya saat ini masih diproses di Danantara,” kata Turino dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/4/2026). (7/4).
Skema Bisnis Terintegrasi

Turino menekankan, terkait aspek pasar, PTBA telah menyiapkan skema bisnis yang terintegrasi dengan menetapkan PT Pertamina sebagai pihak penyerap produksi atau offtaker di pasar domestik.
“Perseroan akan memproduksi DME di lokasi Tanjung Enim, kemudian Pertamina akan mengambil alih hasil produksinya. Namun, pembahasan mengenai kesepakatan harga dan skema penyerapan masih terus berjalan guna memastikan produk DME memiliki nilai ekonomis yang kompetitif di pasar dalam negeri,” paparnya.
Dirinya menyebut aspek keekonomian menjadi salah satu faktor paling krusial dalam pengembangan proyek ini agar memberikan imbal hasil yang optimal bagi seluruh pihak terlibat.
Lebih lanjut Turino menjelaskan, untuk mitra teknologi perseroan telah mengantongi sejumlah calon potensial dari negara-negara maju seperti China, Korea Selatan, dan Jepang, meskipun keputusan resmi belum dijatuhkan.
Baca Juga : PTBA Serius Garap Hilirisasi Batu Bara dan EBT, Begini Strateginya
Menurutnya, pemilihan mitra tersebut akan sangat bergantung pada kesesuaian teknologi dengan karakteristik spesifik batu bara milik PTBA serta kelayakan ekonomi jangka panjang.
“Jika seluruh proses perizinan dan investasi rampung sesuai rencana, pembangunan fisik fasilitas dengan kapasitas awal 1,4 juta ton DME per tahun ini diperkirakan memakan waktu sekitar tiga tahun,” tegas Turino.

Turino menambahkan bahwa, pembangunan itu paling cepat memerlukan waktu tiga tahun apabila tidak ada kendala dan terdapat percepatan pada sisi perizinan serta dukungan lainnya.
“Perseroan menaruh harapan besar agar proyek ini dapat segera terealisasi guna mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG melalui substitusi DME,” tutupnya.
Kendati target operasional masih bergantung pada kelancaran proses di level pemegang kebijakan, manajemen optimis sinergi dengan Danantara akan mempercepat langkah perseroan menuju era industri kimia berbasis batu bara.

