EBuzz – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah belum akan memberikan insentif kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum melihat keseriusan otoritas pasar modal dalam menindak praktik manipulasi perdagangan saham atau yang kerap disebut saham gorengan.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat menanggapi pertanyaan terkait kelanjutan langkah BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memberantas praktik penggorengan saham di pasar modal.
“Tadi kan Pak Mahendra sudah menyebutkan beberapa langkah itu. Saya akan lihat, akan dilihat terus. Dia serius atau tidak,” ujar Purbaya kepada wartawan saat Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia, Jumat (2/1/2026).
Purbaya menegaskan, hingga saat ini pemerintah belum menerima permintaan insentif dari BEI. Menurutnya, pemberian insentif tidak akan dilakukan tanpa evaluasi konkret atas kinerja pengawasan dan penegakan hukum di pasar modal.

“Insentifnya masih belum akan dikeluarkan. Mereka juga belum minta insentif. Kalau mereka minta insentif, saya akan tanya: apa pretensinya? Berapa orang ditangkap?” tegasnya.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya buka suara soal strategi besar dalam membenahi fenomena saham gorengan yang kerap menjebak investor ritel. OJK menilai, masalahnya yakni likuiditas tipis sehingga harga mudah digoyang oleh pemain tertentu.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menegaskan bahwa kunci utama memperkaya likuiditas pasar adalah meningkatkan free float atau porsi saham yang beredar bebas di publik.
“Dengan free float besar dan aktivitas makin lebar, tebal, maka tidak mudah untuk memengaruhi harga lagi,” ujar Mahendra di Gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/12/2025).
Mahendra menambahkan, OJK juga tengah mendorong pemberian insentif bagi emiten yang berani menaikkan free float. Salah satu opsi yang dibahas pengurangan PPh Badan sebagai stimulus fiskal agar perusahaan lebih terbuka melepas saham ke publik.

