EBuzz – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan pelemahan dalam dua hari terakhir. Pada perdagangan Kamis (28/8/2025) pagi, IHSG terkoreksi 1,27% ke level 7.850 setelah sehari sebelumnya juga ditutup di zona merah.
Kondisi ini mencerminkan rapuhnya psikologis pasar terhadap dinamika politik dan keamanan di dalam negeri.
Analis Pasar Modal Hendra Wardana menjelaskan bahwa, tekanan jual di pasar modal tidak hanya dipicu sentimen global, namun lebih dominan oleh faktor domestik. Selain itu, merebaknya aksi massa di Jakarta dan sejumlah daerah dinilai menambah ketidakpastian politik, membuat investor asing maupun lokal cenderung menahan diri bahkan melepas portofolio.
“Pasar modal sangat sensitif terhadap isu stabilitas. Begitu ada potensi risiko keamanan, investor memilih sikap aman,” ujar Hendra. (29/8).
Dinamika Politik di Indonesia Jadi Penyebab
Hendra menambahkan, IHSG kini bergerak mendekati area support 7.800–7.840. Menurutnya, jika mampu bertahan peluang konsolidasi terbuka. Namun apabila jebol, risiko IHSG untuk mengalami koreksi akan lebih dalam mengintai.
Ke depan, pasar menunggu komunikasi yang lebih jelas dan menenangkan dari pemerintah. Apalagi beredar informasi adanya aksi lanjutan BEM SI pada Jumat (29/8/2025) siang. Jika pemerintah mampu merangkul aspirasi publik, stabilitas pasar diyakini akan pulih. Namun jika ketidakpastian terus berlanjut, tekanan jual sulit dihindari meski fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat.
“Situasi Indonesia bahkan menjadi sorotan media internasional. Investor global melihat adanya eskalasi ketidakpastian politik yang menekan pasar keuangan, tidak hanya IHSG tetapi juga rupiah yang ikut berfluktuasi,” ucapnya.
Langkah pemerintah yang dinilai kurang tepat juga ikut memperburuk persepsi. Himbauan work from home (WFH) bagi anggota DPR justru dipandang pasar sebagai sinyal menjauh dari aspirasi publik, bukan upaya meredam gejolak. Sentimen negatif ini dengan cepat memicu aksi jual di bursa.