EBuzz – Chief Asia Equity Strategist HSBC Investment Global Research, Herald van der Linde, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang menyentuh level 9.700 pada tahun 2026.
Herald menilai, meskipun terdapat potensi kenaikan yang menarik, pasar saham domestik tetap dibayangi sejumlah risiko, terutama terkait volatilitas nilai tukar rupiah serta arus modal masuk dan keluar investor asing.
“Kami memiliki target indeks (IHSG) 9.700, naik dari level saat ini sekitar 8.600 atau sekitarnya. Jadi ada prospek yang baik, kami percaya ada potensi kenaikan yang baik di pasar saham Indonesia. Dan risikonya bisa berupa fluktuasi mata uang, bisa juga arus global,” ujar Herald dalam acara Outlook Makro Ekonomi dan Prospek Investasi Indonesia 2026 di Jakarta, Senin (12/1/2026). (13/1).
Menurut Herald, potensi penguatan IHSG sejalan dengan perbaikan valuasi pasar, khususnya dari sisi Price to Earnings Ratio (PE Ratio) ekuitas Indonesia yang dinilai semakin atraktif. Selain itu, ekspektasi peningkatan kinerja laporan keuangan tahun buku 2025 emiten juga menjadi katalis penting bagi pergerakan indeks ke depan.

Namun demikian, untuk mencapai level proyeksi tersebut, dukungan sentimen global tetap dibutuhkan. Herald menyoroti peran sektor teknologi, khususnya saham berbasis Artificial Intelligence (AI) di bursa global, yang berpotensi memberikan efek rambatan (spillover) ke pasar saham Indonesia.
“Mungkin ada fase cooling di AI, atau setidaknya investor mulai melihat lebih jauh dari sekadar eksposur di Korea dan Taiwan, yang telah menjadi cerita selama enam hingga sembilan bulan terakhir,” jelasnya.
Sementara itu, untuk tahun 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak menetapkan target level IHSG secara spesifik. Fokus BEI diarahkan pada penguatan aktivitas pasar, dengan target rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sebesar Rp14,5 triliun, realisasi 50 perusahaan tercatat baru (IPO), serta penambahan 2 juta investor baru.
Pada penutupan perdagangan Senin (12/1), IHSG tercatat melemah 52,03 poin atau 0,58% ke posisi 8.884,71. Sementara indeks LQ45 turun 1,43 poin atau 0,17% ke level 866,55.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan 5.072.603 kali transaksi, melibatkan 74,40 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp40,10 triliun. Sebanyak 279 saham menguat, 435 saham melemah, dan 97 saham stagnan.

