EBuzz – PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) telah merilis pencapaian kinerja keuangan tahun buku 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp1,8 triliun, sebuah angka yang merefleksikan pertumbuhan signifikan sebesar 60,2 persen secara tahunan (year-on-year).
Berdasarkan keterbukaan informasi, lonjakan profitabilitas emiten perkebunan dan produk kayu ini ditopang oleh kenaikan volume penjualan serta penguatan harga jual rata-rata, terutama pada komoditas kelapa sawit yang menjadi kontributor utama pendapatan.

Sepanjang tahun 2025, perseroan mencatatkan total pendapatan sebesar Rp12,3 triliun atau naik 21,7 persen dibandingkan periode sebelumnya, di mana segmen kelapa sawit mendominasi sebesar 88 persen dari total top line dengan nilai penjualan CPO mencapai Rp10,8 triliun.
Direktur Utama DSNG, Andrianto Oetomo dalam siaran pers menyampaikan bahwa, keterbatasan pasokan global turut menjaga stabilitas harga CPO sepanjang tahun di mana produksi CPO di negara eksportir utama seperti Indonesia dan Malaysia masih terbatas, sementara permintaan global tetap kuat.
Ia juga menambahkan bahwa di sisi domestik, implementasi kebijakan B40 turut menjaga stabilitas permintaan sehingga harga CPO tetap berada pada tingkat yang kondusif bagi industri.
“Kenaikan kinerja ini selaras dengan kondisi pasar global di mana harga rata-rata CPO perseroan terkerek 13,2 persen menjadi Rp14.474 per kilogram,” imbuh Andrianto, Senin (30/3/2026). (31/3).
Produksi TBS

Andrianto menambahkan, DSNG mencatatkan kenaikan produksi Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 3,8 persen menjadi 2,19 juta ton, yang diikuti dengan peningkatan produksi CPO sebesar 4,9 persen menjadi 631 ribu ton dan palm kernel naik 4,5 persen menjadi 119 ribu ton.
Selain lini kelapa sawit, segmen produk kayu perseroan juga mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 7,8 persen menjadi Rp1,2 triliun yang didorong oleh peningkatan volume panel kayu dan engineered flooring.
Sementara itu, segmen energi terbarukan mulai menunjukkan kontribusi strategis dengan pendapatan Rp226 miliar, naik dari Rp182,8 miliar pada tahun sebelumnya, yang dipicu oleh operasional penuh pabrik pelet kayu di Boyolali serta ekspor cangkang kelapa sawit ke pasar Jepang.
“Hingga akhir Desember 2025, total aset DSNG tercatat berada di level Rp17,6 triliun dengan struktur liabilitas yang berhasil ditekan menjadi Rp6 triliun seiring pengurangan utang perbankan, sehingga posisi ekuitas perseroan menguat menjadi Rp11,6 triliun,” pungkasnya.
Baca Juga : Ditopang Harga Sawit, DSNG Kantongi Laba Rp1,3 Triliun di Q3-2025
Menurut Andrianto, dengan kepemilikan lahan sawit seluas 111,6 ribu hektar dan kapasitas pabrik kelapa sawit sebesar 675 ton per jam, perseroan menegaskan komitmennya untuk menjaga pertumbuhan sehat melalui disiplin operasional dan diversifikasi bisnis.

Ke depan, emiten agribisnis ini memproyeksikan penguatan posisi di pasar Asia Pasifik dengan mengandalkan integrasi antara perkebunan kelapa sawit, industri kayu, dan pengembangan biomassa sebagai solusi energi rendah karbon yang kian diminati pasar global.

