EBuzz – Platform perdagangan aset kripto Tokocrypto memproyeksikan tahun 2026 akan menjadi titik balik bagi pasar aset kripto Indonesia, setelah industri melewati fase konsolidasi sepanjang 2025.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai potensi ekspansi pasar kripto nasional memasuki 2026 masih sangat besar. Saat ini, penetrasi investor kripto di Indonesia baru berada di kisaran 7 persen dari total populasi, meskipun secara absolut Indonesia telah masuk jajaran pasar kripto terbesar di dunia.

“Dalam skenario optimistis, jumlah investor kripto nasional dapat bertambah sekitar 7–8 juta orang sehingga totalnya berpotensi mendekati 26–27 juta investor. Sementara pada skenario moderat, penambahan sekitar 4–5 juta investor dapat mendorong total investor ke kisaran 23–24 juta hingga akhir 2026,” ujar Calvin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (12/1/2026). (13/1).
Menurut Calvin, laju adopsi kripto berpotensi meningkat lebih cepat apabila kondisi pasar global membaik dan minat terhadap aset berisiko kembali menguat. Dari sisi aktivitas, kuatnya basis transaksi sepanjang 2025 juga membuka peluang kenaikan nilai transaksi pada tahun mendatang.
Sementara itu berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total nilai transaksi aset kripto di Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp482,23 triliun, turun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp650,61 triliun. Meski demikian, Tokocrypto memandang koreksi tersebut sebagai bagian dari proses pendewasaan pasar.
“Kami berharap 2026 menjadi momentum pembalikan, sehingga nilai transaksi kembali meningkat seiring pasar yang makin matang dan partisipasi pengguna yang lebih berkualitas,” katanya.
Data OJK mencatat, hingga November 2025 jumlah investor aset kripto di Indonesia mencapai 19,56 juta orang, meningkat 2,5 persen dibandingkan Oktober 2025 sebanyak 19,08 juta investor. Capaian tersebut mencerminkan pasar yang terus membesar, meski penetrasinya masih relatif rendah.
Investor Pasar Modal RI

Sedangkan, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memasang target agresif untuk memperluas basis investor pasar modal nasional pada tahun 2026. Lembaga infrastruktur pasar modal ini menargetkan penambahan sekitar 2 juta investor baru, seiring tren pertumbuhan investor yang masih solid dalam beberapa tahun terakhir.
Target tersebut dinilai realistis mengingat lonjakan signifikan jumlah investor sepanjang 2025. Hingga 19 Desember 2025, KSEI mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia telah mencapai 20,12 juta investor, melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat menyampaikan, pencapaian target tersebut membutuhkan kolaborasi seluruh pelaku industri, mulai dari perusahaan sekuritas, bank kustodian, hingga agen penjual produk investasi.
“Mudah-mudahan ini bisa kami capai. Tentunya ini sangat membutuhkan peran dari para pelaku pasar untuk menarik investor pasar modal Indonesia,” ungkap Samsul, Jumat (26/12/2025).
Data KSEI menunjukkan investor reksa dana masih mendominasi dengan jumlah mencapai 18,99 juta investor hingga akhir 2025. Angka tersebut beririsan dengan jumlah investor saham yang tercatat sebanyak 8,5 juta investor, mencerminkan semakin luasnya diversifikasi instrumen yang dimanfaatkan oleh investor ritel.
Sementara itu, minat terhadap instrumen pendapatan tetap juga terus bertumbuh. Jumlah investor Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mencapai 1,4 juta investor per 19 Desember 2025, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap investasi yang relatif stabil dan berisiko lebih rendah.

