EBuzz – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menghadapi tekanan jangka pendek menjelang rencana aksi demonstrasi pada hari ini.
Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong investor mengambil keuntungan setelah IHSG sebelumnya mengalami penguatan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan sentimen menjelang aksi demonstrasi berpotensi menjadi salah satu faktor yang memicu aksi profit taking dan sikap risk-off di pasar.
“Sentimen jelang aksi demonstrasi 27 Agustus memang berpotensi menjadi salah satu faktor yang memicu aksi profit taking dan risk-off jangka pendek, terutama setelah IHSG sebelumnya mengalami penguatan dan investor cenderung mengamankan keuntungan menjelang potensi meningkatnya volatilitas,” ujar Nafan melalui keterangan tertulisnya, Kamis (27/8/2026).
Baca Juga : Mirae Ungkap Kondisi Pasar Saham RI di Semester II-2026
Menurutnya, rencana aksi di sekitar Gedung DPR/MPR menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi tersebut dapat membuat sebagian investor memilih bersikap wait and see hingga situasi politik dan keamanan lebih jelas.
Faktor Penggerak IHSG

Namun, Nafan menilai pelemahan IHSG lebih dari 1% tidak sepenuhnya dapat dikaitkan dengan sentimen demonstrasi. Pergerakan pasar saham juga dipengaruhi oleh faktor teknikal, rotasi sektor, aksi ambil untung, arus dana asing, serta sentimen makroekonomi dan global.
“Pasar saham biasanya juga dipengaruhi faktor teknikal, rotasi sektor, aksi ambil untung, arus dana asing, serta sentimen makro dan global,” katanya.
Nafan menambahkan, apabila aksi demonstrasi berlangsung tertib dan tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang signifikan, dampaknya terhadap IHSG berpotensi bersifat sementara dan lebih didorong oleh sentimen pasar.

“Selama aksi berlangsung tertib dan tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang signifikan, dampaknya terhadap IHSG kemungkinan lebih bersifat temporer dan berbasis sentimen, bukan perubahan fundamental,” imbuh Nafan.
Baca Juga : Rebalancing MSCI, Mirae Proyeksi Outflow hingga Rp1 T
Sebaliknya, apabila terjadi eskalasi atau ketidakpastian politik meningkat, tekanan jual berpotensi berlanjut seiring kenaikan premi risiko pasar.

