EBuzz – Saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) melesat tajam dalam waktu singkat sebelum Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya menghentikan sementara perdagangannya. Bursa menilai pergerakan harga saham pengelola ANTV ini bergerak terlalu agresif dalam periode singkat.
Lonjakan Ekstrem dalam Sebulan
Saham MDIA ditutup di level Rp 280 per saham pada perdagangan Rabu (12/8/2026), sehari sebelum suspensi berlaku. Harga tersebut melonjak 13,82% hanya dalam sehari. Dalam sebulan terakhir, saham MDIA telah melejit sekitar 317,91%. Investor juga mencatat penguatan sekitar 25% dalam lima hari perdagangan terakhir saja.
BEI Turun Tangan
BEI merespons lonjakan harga yang tidak wajar tersebut dengan menghentikan perdagangan saham MDIA di seluruh pasar mulai Kamis (13/8/2026) hingga ada pengumuman lebih lanjut. Bursa biasanya menempuh langkah ini ketika kenaikan harga saham tidak sejalan dengan fundamental emiten atau berpotensi menimbulkan unusual market activity.
Manajemen Buka Suara
Sekretaris Perusahaan MDIA Andrew Santoni Hutasoit merespons suspensi tersebut melalui keterbukaan informasi di BEI pada Senin (17/8/2026). Ia menjelaskan bahwa pergerakan harga saham mencerminkan mekanisme pasar yang dipengaruhi oleh penawaran dan permintaan, likuiditas, serta sentimen investor. Manajemen menegaskan bahwa harga saham tidak selalu bergerak sejalan dengan kinerja operasional perseroan dalam jangka pendek. Ekspektasi investor terhadap prospek industri, optimalisasi aset, dan langkah efisiensi perusahaan turut memengaruhi aktivitas perdagangan.
Rugi Bersih Menyusut Tajam
Lonjakan harga saham MDIA terjadi di tengah kinerja keuangan perseroan yang masih mencatatkan rugi, meski tren perbaikan terlihat jelas. Perseroan membukukan pendapatan Rp 141,7 miliar dengan laba usaha Rp 14,3 miliar pada kuartal I 2026. Rugi bersih MDIA menyusut signifikan menjadi Rp 8,3 miliar dari Rp 58,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan beban lain-lain neto menjadi kontributor utama perbaikan kinerja. Pos ini turun dari Rp 90,3 miliar menjadi Rp 22,6 miliar. Rugi selisih kurs juga menyusut dari Rp 48,2 miliar menjadi Rp 8,8 miliar.
Neraca Membaik, Liabilitas Turun
Posisi keuangan MDIA turut menunjukkan perbaikan per 31 Maret 2026. Perseroan mencatatkan total aset Rp 3,13 triliun dengan ekuitas positif Rp 935,5 miliar. Total liabilitas turun Rp 199,5 miliar atau 8,3%, dari Rp 2,39 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp 2,19 triliun pada akhir kuartal I 2026.
ANTV Tetap Jadi Andalan
Manajemen menegaskan bisnis penyiaran melalui ANTV masih menjadi motor utama pendapatan perseroan. ANTV mempertahankan fokus pada konten hiburan keluarga dengan target utama pemirsa perempuan dan ibu rumah tangga. Perseroan mengandalkan serial India dan film klasik Indonesia untuk menjaga efisiensi biaya konten.
MDIA juga merevitalisasi Master Control Room (MCR) dan mengoptimalkan penggunaan transponder guna mendukung operasional siaran.
Ekspansi ke Ranah Digital
Perseroan memperluas distribusi konten melalui platform digital seiring pergeseran perilaku menonton. Melalui sinergi grup VIVA, konten free-to-air ANTV didistribusikan ulang lewat YouTube, Facebook, dan Instagram untuk menjangkau audiens digital-native.
Memasuki 2026, MDIA berencana memperkuat portofolio konten lokal pada jam prime time, menjajaki serial asing dari pasar yang belum banyak digarap kompetitor, memperluas kegiatan off-air, serta meningkatkan efisiensi di seluruh rantai operasional.
Tak Ada Informasi Material Tersembunyi
Terkait lonjakan saham yang menjadi sorotan Bursa, manajemen memastikan tidak ada informasi material yang salah atau belum dilaporkan kepada publik. Perseroan juga menegaskan tidak terdapat fakta material penting lain yang disembunyikan dari publik maupun investor.
Manajemen menyatakan tidak ada perolehan kontrak baru, sumber pendapatan baru yang signifikan, maupun transaksi material lain yang belum diungkapkan sejak posisi 31 Maret 2026. Perseroan, anak usaha, maupun anggota Direksi dan Dewan Komisaris juga tidak sedang menghadapi perkara hukum yang berdampak material.
Prospek Industri Media Masih Cerah
MDIA menilai pergerakan sahamnya perlu dibaca dalam konteks mekanisme pasar dan sentimen investor, bukan semata cerminan kinerja operasional jangka pendek. Perseroan tetap optimistis terhadap prospek industri media dan hiburan Indonesia.
MDIA mengutip proyeksi PwC dalam Global Entertainment & Media Outlook 2025 to 2029 yang memperkirakan industri hiburan dan media Indonesia tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 8,4%, melampaui rata-rata pertumbuhan global sebesar 4,2%.
Baca Juga SeaBank Cetak Laba Rp749,26 Miliar di Semester I-2026
Bagi MDIA, televisi free-to-air masih memegang peran penting dalam membangun kesadaran massa secara nasional, terutama di luar Jakarta. Perseroan berencana memadukan kanal televisi tersebut dengan distribusi digital untuk menjangkau audiens yang semakin terfragmentasi.

