EBuzz – Harga emas terkoreksi lebih dari 1% pada Senin (13/7/2026), setelah kekhawatiran penutupan Selat Hormuz mendorong harga minyak melonjak tajam dan menghidupkan kembali ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan.
Emas spot tercatat turun 1,5% menjadi US$ 4.060,36 per ons pada pukul 05.41 GMT, sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus melemah 1,1% menjadi US$ 4.068,30. Tekanan ini muncul di tengah eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran, setelah kedua belah pihak saling melancarkan serangan rudal dan drone berat pada akhir pekan, dengan Teheran menargetkan sejumlah fasilitas AS di kawasan Teluk pada Minggu. Iran juga kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak yang sangat vital bagi pasokan energi global.
Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan. Harga minyak melonjak sekitar 4%, dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menguat, sementara bursa saham di kawasan Asia tertekan.
Kepala pasar institusional global ABC Refinery, Nicholas Frappell, seperti dikutip Reuters, menyebut eskalasi kekerasan di Teluk secara konsisten menekan harga emas. Ia menambahkan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan berpotensi memicu efek deflasi ke depan, karena penurunan permintaan energi dapat menekan aktivitas ekonomi global, sebuah kondisi yang justru bisa kembali mendukung harga emas sebagai aset lindung nilai.
Baca Juga Jalankan Amanat UU P2SK, KPEI Siap Masuk ke Pasar Uang dan Valas
Perhatian pasar pekan ini juga tertuju pada testimoni semi tahunan pertama Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan Kongres, bersamaan dengan rilis sejumlah data ekonomi penting AS, termasuk CPI, PPI, dan penjualan ritel periode Juni. Pernyataan lanjutan dari sejumlah pembuat kebijakan The Fed, termasuk Wakil Ketua Michelle Bowman dan Gubernur Christopher Waller, turut menjadi sorotan untuk membaca arah sikap bank sentral AS terhadap tekanan inflasi dan potensi kenaikan suku bunga.

