EBuzz – Emiten perkebunan kelapa sawit, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) berhasil membukukan pendapatan di sepanjang 2025 sebesar Rp14,81 triliun, melonjak 42,91% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp10,37 triliun. Pertumbuhan pendapatan ini, didorong oleh kombinasi kenaikan harga jual, peningkatan volume penjualan, serta penguatan nilai tukar Dolar AS terhadap Rupiah.

Sejalan dengan itu, profitabilitas Perseroan menguat tajam dengan laba tahun berjalan setelah penyesuaian proforma mencapai Rp1,39 triliun, atau meroket 67,43% secara tahunan (YoY).
Baca Juga : Mirae Asset Sekuritas dan MNC Sekuritas Rekomendasikan Buy, Target Saham SSMS Naik ke 2300
Dari sisi neraca, total aset Perseroan naik 14,43% menjadi Rp13,58 triliun. Lonjakan aset ini terutama dipicu oleh aksi korporasi strategis berupa akuisisi PT Sawit Mandiri Lestari (SML) pada akhir tahun 2025 yang memperluas basis perkebunan dengan profil tanaman muda. Ekuitas Perseroan juga tumbuh menjadi Rp2,94 triliun yang disokong oleh akumulasi laba tahun berjalan.
Direktur Utama SSMS, Jap Hartono, menegaskan bahwa perseroan tetap fokus pada integrasi bisnis dari hulu hingga hilir serta kepatuhan terhadap standar keberlanjutan global. Selain itu, perseroan terus memperkuat tata kelola keberlanjutan melalui peningkatan sistem ketertelusuran rantai pasok, penerapan praktik perkebunan berkelanjutan, serta pemenuhan berbagai standar sertifikasi internasional maupun nasional, seperti pemenuhan sertifikasi RSPO dan ISPO.
“Langkah ini tidak hanya memastikan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga memperkuat posisi Perseroan sebagai produsen kelapa sawit yang bertanggung jawab dan berdaya saing global,” ujar Jap Hartono dalam laporannya, Kamis (30/4/2026).
Produksi TBS

Dirinya menambahkan, dari sisi operasional, SSMS mencatatkan produksi Tandan Buah Segar (TBS) inti sebanyak 1.628.452 MT, naik 4,22%. Sementara itu, produksi Crude Palm Oil (CPO) melesat 14,23% menjadi 527.052 MT dengan tingkat rendemen atau Oil Extraction Rate (OER) mencapai 22,12%.
“Peningkatan ini merupakan hasil dari perbaikan kualitas TBS dan pengendalian losses di 10 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik Perseroan,” pungkasnya.
Baca Juga : Setelah Kredit Sindikasi, Emiten Sawit SSMS Sah Akuisisi Saham SML Rp1,6 Triliun
Menatap tahun 2026, manajemen optimis terhadap prospek industri hijau seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi alternatif dan pangan dunia.
“Permintaan global terhadap minyak nabati diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi, perkembangan industri pangan, serta meningkatnya kebutuhan energi alternatif yang lebih berkelanjutan,” tutup Jap Hartono.

