EBuzz – Yayasan Kartini Heritage Center menggelar kegiatan untuk memperingati Hari Kartini dengan mengambil tema Perempuan Istimewa Mandiri Secara Ekonomi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya, menghadirkan ruang yang lebih inklusif, hangat, dan bermakna bagi perempuan istimewa untuk belajar, bertumbuh, dan berkarya.
Program ini diinisiasi oleh Yayasan Kartini Heritage Center, yayasan yang didirikan oleh keturunan langsung R.A. Kartini. Inisiatif ini bertujuan menghadirkan kembali semangat perjuangan Kartini dalam konteks masa kini melalui pembukaan akses terhadap pembelajaran, kreativitas, rasa percaya diri, serta peluang menuju kemandirian ekonomi.

Ketua Yayasan Kartini Heritage Center, Joddy Mulyasetya Putra, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal dari gerakan berkelanjutan yang ingin menghadirkan perubahan nyata. Menurutnya, salah satu fokus utama kegiatan ini adalah menghadirkan Studio Kreasi Kartini sebagai wadah berkreasi bagi perempuan istimewa.
Studio ini dirancang sebagai ruang belajar, ruang berproses, dan ruang bertumbuh untuk membuka peluang bagi perempuan dalam mengenali potensi diri, membangun rasa percaya diri, serta mengembangkan keterampilan kreatif dan digital secara berkelanjutan.
“Yang ingin kami bangun bukan hanya acara, tetapi ruang dan gerakan. Kami percaya setiap perempuan memiliki potensi untuk bertumbuh, berkarya, dan memberi makna. Karena itu, melalui program ini kami ingin menghadirkan wadah yang lebih dekat, lebih inklusif, dan lebih berkelanjutan agar perempuan istimewa dapat berkembang dengan percaya diri dan memiliki peluang menuju kemandirian ekonomi,” ujar Joddy dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/4/2026). (24/4).
Senada, Direktur Perlindungan Perempuan dan Anak Yayasan Kartini Heritage Center, Elisa Soegito, menyampaikan bahwa program ini berangkat dari kesadaran akan tantangan yang masih dihadapi perempuan istimewa, terutama terkait akses, ruang ekspresi, dan kesempatan berkembang.
“Perempuan istimewa sering kali masih berhadapan dengan keterbatasan akses dan stigma sosial. Karena itu, penting untuk menghadirkan ruang yang bukan hanya menerima kehadiran mereka, tetapi juga mendukung mereka untuk tumbuh, merasa dihargai, dan memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang,” ungkapnya.
Pengembangan Potensi Diri

Sementara itu, Direktur Pendidikan dan Edukasi Yayasan Kartini Heritage Center, Aga Nugraha, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan difokuskan pada pembelajaran aplikatif melalui pelatihan kreator, pendampingan, serta penguatan keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Pendidikan hari ini tidak hanya soal pengetahuan, tetapi juga soal membuka akses terhadap kemampuan yang dapat digunakan untuk kehidupan nyata. Melalui pelatihan dan pendampingan ini, kami ingin peserta memiliki ruang untuk belajar, mengenali potensi diri, dan mengembangkan kreativitasnya secara lebih percaya diri,” ujar Aga.
Disisi lain, Direktur Keuangan Yayasan Kartini Heritage Center, Bachtiar Putra Arvianto, menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk berkembang secara berkelanjutan dan menjangkau wilayah yang lebih luas.
“Program ini dirancang bukan hanya untuk satu momentum, tetapi sebagai gerakan jangka menengah yang berkelanjutan. Kami ingin membangun ekosistem yang dapat terus hidup, bertumbuh, dan memberi manfaat lebih luas, dimulai dari Rembang sebagai titik pertama, lalu Jepara, dan ke depan menjangkau wilayah-wilayah lain di Indonesia,” jelasnya.
Baca Juga : OJK, BI dan KP2MI Ajarkan Kelola Uang ke Ribuan Pekerja Migran Perempuan
Melalui pelaksanaan kegiatan pada 20–22 April 2026 di Rembang, Yayasan Kartini Heritage Center menargetkan terciptanya ruang yang lebih suportif bagi perempuan istimewa untuk belajar, berkarya, dan berkembang, sekaligus mendorong lahirnya kreativitas serta peluang menuju kemandirian ekonomi melalui pemanfaatan teknologi dan platform digital.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Selvi Ananda Gibran dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Arifatul Choiri Fauzi. Kehadiran keduanya mencerminkan perhatian terhadap isu pemberdayaan perempuan, inklusivitas, serta penguatan kapasitas kelompok rentan dalam pembangunan sosial.

