Seleksi Paket Direksi BEI Dinilai Buang Waktu, Ini Alasannya

EBuzz – Pemilihan direksi PT Bursa Efek Indonesia periode 2026–2030 akan berlangsung tahun ini, seiring berakhirnya masa jabatan direksi periode 2022–2026. Namun hingga kini, pelaku pasar menilai belum ada pembahasan konkret terkait komposisi direksi baru, di tengah menguatnya wacana demutualisasi bursa.

Direktur Reliance Sekuritas, Reza Priyambada, menilai kondisi tersebut mencerminkan arah kebijakan yang masih cair, khususnya terkait mekanisme seleksi direksi BEI ke depan.

Menurutnya, selama ini pemilihan direksi bursa dilakukan dalam format paket, yang kemudian kembali disaring oleh Otoritas Jasa Keuangan. Skema tersebut dinilai tidak efisien dan berisiko membuang waktu jika hanya sebagian nama dalam paket yang akhirnya lolos persetujuan regulator.

“Kalau dari awal seleksi memang akan dipecah, sebaiknya pemilihan dilakukan secara individual seperti di OJK atau BPJS. Semua yang memenuhi syarat bisa maju terbuka, tanpa harus dikemas dalam paket,” ujar Reza dalam keteranga tertulisnya. (18/2).

Hingga pertengahan Februari 2026, Reza menyebut belum terlihat figur maupun kelompok yang mencuat sebagai kandidat kuat. Pelaku pasar masih bersikap wait and see, sambil mencermati arah kebijakan pemerintah serta potensi masuknya entitas strategis baru dalam ekosistem pasar modal.

“Banyak yang belum berani tampil. Mereka ingin melihat dulu ke mana arah struktur pasar akan dibawa, termasuk dampak demutualisasi dan keterlibatan pemain besar,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika demutualisasi BEI benar-benar terealisasi, maka mekanisme seleksi direksi idealnya dibuat lebih transparan dan kompetitif. “Penilaian kandidat seharusnya berbasis kapasitas, rekam jejak, dan visi pengembangan pasar, bukan hasil kompromi paket kepentingan,” ucap Reza.

Figur Bos BEI

Di sisi lain, Reza menekankan pentingnya menjaga independensi OJK dan BEI dari intervensi. Wacana pengisian jabatan oleh figur muda, sebagaimana sempat disinggung Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, dinilai sah selama berbasis kompetensi, bukan semata faktor usia atau simbol regenerasi.

“Bukan soal muda atau senior. Yang utama adalah penguasaan pasar modal, kode etik bursa, pemahaman produk, serta strategi pendalaman pasar. Tantangan ke depan jauh lebih kompleks,” tegasnya.

Menurut Reza, kepemimpinan pasar modal ke depan dituntut mampu mendorong peningkatan kapitalisasi pasar, memperluas variasi produk, meningkatkan likuiditas, serta menarik investor domestik dan asing secara berkelanjutan.

“Produk bisa diciptakan dengan cepat, tapi membuatnya likuid dan menarik investor itu yang sulit. Di situlah peran pemimpin yang punya visi dan kompetensi,” tutup Reza.

Sebelumnya, Menurut Luhut, struktur kepemimpinan OJK dan BEI ke depan idealnya diisi figur muda yang memiliki rekam jejak kuat, kredibilitas tinggi, serta independen dari berbagai kepentingan.

“Saya berpikir nanti akan saya laporkan ke Presiden, cari saja anak muda. Tidak harus orang terkenal, tapi yang punya pengalaman, kredibilitas, dan tidak bisa diintervensi siapa pun,” ujar Luhut, Jumat (13/2/2026).

Mantan Menko Maritim dan Investasi ini menuturkan, DEN telah melakukan kajian dan penjajakan ke berbagai pihak dalam menyusun usulan struktur tersebut. Ia menilai, rancangan yang disiapkan sejalan dengan visi Presiden Prabowo yang menekankan nasionalisme, transparansi, serta kepentingan publik dalam pengelolaan sektor keuangan.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini