EBuzz – Emiten jasa teknologi finansial dan pembayaran digital, PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH), masih menghadapi tekanan kinerja sepanjang tahun 2025.
Dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Selasa (17/2/2026), bahwa perseroan mencatat rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp68,12 miliar, melonjak sekitar 102 persen dibandingkan kerugian tahun 2024 yang sebesar Rp33,73 miliar.
Seiring dengan membengkaknya kerugian, laba per saham (earnings per share/EPS) Cashlez juga semakin tertekan. Pada 2025, EPS tercatat minus Rp47,6 per saham, memburuk dari EPS negatif Rp23,57 per saham pada tahun sebelumnya.
Tekanan kinerja ini terutama dipicu oleh penurunan pendapatan. Sepanjang 2025, pendapatan Cashlez turun 20,35 persen menjadi Rp110,18 miliar, dari Rp138,34 miliar pada 2024.
Meski demikian, perseroan masih mampu membukukan laba kotor Rp20,17 miliar, sedikit lebih baik dibandingkan laba kotor Rp19,01 miliar pada tahun sebelumnya.
Baca juga: Komisaris Dharma Polimetal Jual 300 Ribu Saham DRMA
Namun, perbaikan di tingkat laba kotor belum cukup menahan pelebaran kerugian. Salah satu faktor utama adalah lonjakan kerugian piutang neto yang meningkat tajam menjadi Rp11,16 miliar, dari hanya Rp360,59 juta pada 2024.
Kondisi ini mendorong rugi usaha Cashlez melonjak signifikan menjadi Rp54,83 miliar, dibandingkan Rp35,97 miliar pada tahun sebelumnya.
Dari sisi biaya, beban penjualan serta beban umum dan administrasi relatif stabil dibandingkan tahun lalu. Meski begitu, beban keuangan justru meningkat cukup tajam menjadi Rp10,67 miliar sepanjang 2025, menambah tekanan pada kinerja perseroan.
Tekanan juga datang dari aspek perpajakan. Beban pajak meningkat dari Rp881,81 juta menjadi Rp1,67 miliar, sementara beban pajak tangguhan melonjak signifikan hingga Rp11,18 miliar pada 2025. Kondisi ini semakin memperlebar rugi bersih yang harus ditanggung Cashlez sepanjang tahun buku tersebut.

