EBuzz – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan bahwa keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait perubahan metodologi perhitungan free float saham dijadwalkan ditetapkan pada Jumat, 30 Januari 2026.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menjelaskan MSCI telah membuka public consultation pada November–Desember 2025 untuk menghimpun masukan dari klien dan pelaku pasar global sebelum menetapkan keputusan akhir.
“Nah, hasilnya terus terang masih menunggu tanggal 30, jadi hari Jumat. Kita berharap MSCI tidak sepenuhnya melakukan apa yang mereka sampaikan di public consultation,” kata Irvan di Bursa Efek Indonesia, Senin (26/1/2026).
Irvan mengungkapkan BEI telah berkoordinasi dengan MSCI selama proses konsultasi berlangsung. Dalam komunikasi tersebut, BEI menyampaikan keberatan atas metodologi yang diusulkan, termasuk permintaan agar penerapannya dilakukan secara setara di seluruh negara serta menggunakan pendekatan yang dinilai lebih tepat.
“Dan ada metode lain yang mereka punya yang sebenarnya bisa mereka gunakan. Data free float ini adalah data sebenarnya yang diungkapkan oleh perusahaan tercatat,” ungkapnya.
Potensi Dana Asing Keluar

Sementara terkait proyeksi potensi dana asing keluar, Irvan menyebut masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan sebelum keputusan resmi diumumkan. Ia juga menyampaikan pasar modal Indonesia saat ini ditopang pertumbuhan jumlah investor, pendalaman pasar, serta nilai transaksi harian yang berada di kisaran US$2 miliar.
Untuk itu, dirinya meminta agar publik menunggu keputusan secara resmi yang dikeluarkan oleh MSCI pada pekan ini. Dirinya juga berharap agar, keputusan yang dikeluarkan merupakan yang terbaik. Sebab, pihaknya telah melakukan berbagai upaya terkait keberatan perhitungan free float tersebut.
“BEI terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga daya tarik pasar, termasuk inovasi produk dan penyempurnaan mekanisme perdagangan bagi investor ritel, institusi domestik, maupun investor asing,” pungkas Irvan.
Sejumlah lembaga keuangan global sebelumnya memproyeksikan potensi arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia seiring rencana penyesuaian metodologi tersebut. Hal ini didukung dari data Bloomberg, di mana Goldman Sachs memperkirakan perubahan tersebut dapat mendorong passive outflows dari Indonesia hingga US$2,3 miliar, meningkat dari estimasi sebelumnya sebesar US$1,8 miliar.
Dana yang keluar dari Indonesia diproyeksikan akan tersebar ke sejumlah pasar regional, dengan China diperkirakan menerima sekitar US$510 juta, disusul Taiwan US$420 juta, serta India dan Korea Selatan masing-masing sekitar US$290 juta.
Goldman Sachs menyebut potensi arus keluar tersebut berkaitan dengan rencana penerapan metodologi baru MSCI yang mempertimbangkan risiko penghapusan saham dari indeks apabila foreign inclusion factor turun di bawah 15% atau kapitalisasi pasar berbasis free float tidak lagi memenuhi ambang batas indeks.

