EBuzz – PT Korea Investment Management Indonesia (KIM Indonesia) menargetkan pertumbuhan Asset Under Management (AUM) atau dana kelolaan reksa dana sebesar 30 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada tahun 2026. Target tersebut disampaikan manajemen seiring dengan tren positif pertumbuhan industri reksa dana nasional.
Direktur Utama KIM Indonesia Arfan F. Karniody menjelaskan bahwa, per Desember 2025, dana kelolaan KIM Indonesia tercatat mencapai Rp9,92 triliun, melonjak 134 persen dibandingkan posisi Desember 2024 yang sebesar Rp4,24 triliun. Peningkatan ini memperkuat posisi KIM Indonesia di tengah dinamika industri pengelolaan investasi.
“Kemudian untuk target KIM Indonesia di tahun 2026, kita total AUM kurang lebih kita akan tumbuh at least 30 persen,” ujar Arfan di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/1/2026). (20/1).
Arfan menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi momentum penting bagi industri reksa dana Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), industri reksa dana mencatatkan pertumbuhan sebesar 35,94 persen secara tahunan, setelah mengalami periode stagnasi dalam beberapa tahun terakhir.
Prospek Reksa Dana di 2026

Memasuki 2026, KIM Indonesia memandang prospek industri reksa dana tetap berada dalam jalur pertumbuhan. Manajemen mencatat potensi pertumbuhan masih akan ditopang oleh produk reksa dana berbasis pendapatan tetap serta non-market.
“Kami pikir pertumbuhan yang terbesar itu kemungkinan besar masih akan didominasi oleh reksa dana berbasis fixed income dan atau non market. Untuk saham dan balance fund juga masih tumbuh, namun tidak setinggi pendapatan tetap,” pungkasnya.
Dalam jangka panjang, KIM Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran sebagai Manajer Investasi melalui pengembangan solusi investasi di berbagai kelas aset.
Saat ini, produk KIM Indonesia mencakup reksa dana pasar uang, ETF, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana terproteksi, serta reksa dana campuran.
Sejak 2019, dana kelolaan KIM Indonesia tercatat meningkat hingga 1.259 persen, sejalan dengan penguatan strategi investasi, kinerja produk, dan tata kelola perusahaan.

