OJK: Pasar Modal RI Masih Punya PR Besar

EBuzz – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kinerja pasar modal Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan capaian yang kuat, namun masih menyisakan ruang perbaikan yang signifikan, khususnya dari sisi kualitas pasar dan perlindungan investor ritel.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan tinggi, kinerja saham-saham unggulan justru relatif tertinggal. Indeks LQ45 yang menjadi acuan saham berkapitalisasi besar dan likuid hanya tumbuh 2,41% sepanjang 2025, jauh di bawah kenaikan IHSG.

“Ini menunjukkan masih adanya ruang perbaikan dalam kualitas dan kedalaman pasar kita,” ujar Mahendra dalam pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2026 di Jakarta. (2/1/2026).

Di sisi lain, kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) melonjak signifikan dari 56% pada akhir 2024 menjadi 72% di akhir 2025. Menurut Mahendra, capaian tersebut mencerminkan peran pasar modal yang semakin strategis dalam perekonomian nasional.

“Sungguh kenaikan yang luar biasa. Namun, angka ini masih berada di bawah negara-negara kawasan seperti India yang mencapai 140% PDB, Thailand 101%, dan Malaysia 97%. Artinya, potensi pengembangan pasar modal Indonesia masih sangat besar,” jelasnya.

OJK juga menyoroti lonjakan porsi transaksi investor ritel yang meningkat tajam dari 38% di akhir 2024 menjadi 50% berdasarkan data terakhir. Proporsi ini dinilai sangat besar dibandingkan negara lain yang umumnya masih didominasi investor institusional.
Menurut Mahendra, meningkatnya dominasi investor ritel turut meningkatkan urgensi penguatan perlindungan investor dan integritas pasar.

“Ini semakin meningkatkan urgensi penguatan aspek perlindungan, termasuk melindungi investor ritel dari praktik goreng-goreng saham, transaksi tidak wajar, serta berbagai bentuk manipulasi lainnya,” tegas Mahendra.

Ia menambahkan, penguatan literasi dan regulasi yang lebih masif, terarah, dan berkualitas menjadi kunci untuk memastikan partisipasi investor ritel tumbuh secara sehat dan berkelanjutan. Saat ini, lebih dari 70% investor ritel di pasar modal Indonesia berasal dari generasi Y dan Z.

OJK berharap kelompok investor tersebut tidak memandang pasar saham semata sebagai sarana transaksi jangka pendek, melainkan sebagai sumber pendanaan dan investasi jangka menengah hingga panjang guna meningkatkan kesejahteraan keuangan.

Fokus OJK di 2026

Untuk merealisasikan potensi besar pasar modal, OJK bersama seluruh pemangku kepentingan, termasuk Self-Regulatory Organization (SRO), berkomitmen menjalankan sejumlah program strategis pada 2026 yang difokuskan pada peningkatan integritas dan kualitas pasar.

Pertama, peningkatan kualitas perusahaan tercatat melalui penyempurnaan kebijakan secara menyeluruh, mulai dari persyaratan pencatatan (entry requirement), peningkatan free float termasuk skema continuous free float, transparansi Ultimate Beneficial Owner (UBO), hingga penerapan kebijakan exit yang jelas. Transparansi UBO dinilai penting untuk meminimalkan transaksi tidak wajar sekaligus meningkatkan likuiditas riil pasar.

Kedua, peningkatan basis investor domestik dan institusional melalui penguatan peran reksa dana, asuransi, dan dana pensiun. OJK menilai penguatan tata kelola dan manajemen risiko di sektor asuransi dan dana pensiun telah berjalan baik, sehingga membuka ruang peningkatan investasi institusional di pasar modal.

Ketiga, adopsi reformasi tata kelola pasar saham dengan mengacu pada praktik terbaik global, melalui peningkatan transparansi, kualitas keterbukaan informasi, dan disiplin pengelolaan perusahaan guna mendorong pertumbuhan pasar yang berkelanjutan.

“OJK juga terus memperkuat perlindungan investor minoritas dan ritel melalui penegakan market conduct, termasuk pengawasan terhadap perilaku influencer keuangan atau finfluencer,” tutup Mahendra.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini