EBuzz – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan tahun 2026 dengan penguatan signifikan dan dibuka di level 8.676,74. Penguatan ini mencerminkan sentimen positif pelaku pasar terhadap prospek perekonomian nasional yang dinilai semakin solid memasuki tahun ini.
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai pergerakan IHSG di awal tahun menjadi sinyal kepercayaan pasar atas perbaikan fundamental ekonomi. Menurutnya, fondasi ekonomi Indonesia menunjukkan tren penguatan yang berpotensi berlanjut sepanjang 2026.
“Saya pikir kalau memang itu ada optimisme di pasar bahwa kita akan membaik. Kalau saya lihat fondasi ekonominya yang sudah agak membaik sekarang, tahun ini akan lebih baik lagi,” ujar Purbaya usai seremoni pembukaan perdagangan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Purbaya menegaskan bahwa penguatan IHSG juga didorong oleh semakin solidnya koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia. Sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter dinilai membuka ruang pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kebijakan kita dengan Bank Indonesia sudah sinkron, harusnya ekonomi bertumbuh lebih cepat. Jadi pelaku pasar siap-siap saja,” tegasnya.
IHSG Berpeluang Sentuh Level 10.000

Dalam kesempatan tersebut, Purbaya menyampaikan optimisme bahwa IHSG berpotensi menembus level 10.000 pada tahun 2026. Proyeksi tersebut dinilai realistis seiring membaiknya kondisi ekonomi dan ekspektasi pertumbuhan kinerja emiten.
“Target IHSG pada tahun ini di level 10.000,” kata Purbaya.
Ia menjelaskan bahwa akselerasi pertumbuhan ekonomi akan ditopang oleh kebijakan fiskal dan moneter yang lebih terkoordinasi. Hal ini diyakini akan mendorong peningkatan laba perusahaan tercatat dan memperkuat daya tarik pasar modal bagi investor.
“Dengan kebijakan yang lebih sinkron dengan bank sentral dan lain-lain, ekonomi kita tumbuh lebih cepat. Itu akan melandasi pertumbuhan keuntungan perusahaan emiten juga. Jadi kalau investor yang jeli, jangan sampai ketinggalan,” ujar Mantan Ketua LPS.
Selain itu, Purbaya juga menanggapi upaya otoritas pasar modal dalam memberantas praktik manipulasi pasar atau saham gorengan. Ia menegaskan bahwa pengawasan terhadap langkah-langkah bursa akan terus dilakukan.
“Soal-soal saham gorengan dari Bursa, sudah ada selanjutnya belum? Saya akan lihat, akan dilihat terus. Dia serius atau tidak,” tuturnya.
Terkait kemungkinan pemberian insentif kepada Bursa Efek Indonesia pada 2026, Purbaya menyebut hingga saat ini belum ada permintaan resmi dari pihak bursa. Pemerintah, kata dia, akan mempertimbangkan kinerja dan capaian konkret sebelum memberikan dukungan tambahan.
“Mereka belum minta insentif. Kalau mereka minta insentif, saya akan tanya: apa prestasinya? Berapa orang ditangkap?” pungkasnya.

