Dirut BEI Buka-Bukaan Soal Isi Surat ke MSCI Terkait Aturan Free Float

EBuzz – Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah memproses pengiriman surat resmi kepada Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait aturan terbaru mengenai komponen free float dalam penilaian indeks global.

Direktur Utama BEI Iman Rachman menegaskan, langkah tersebut bukan bentuk protes, melainkan upaya klarifikasi agar regulasi yang diterapkan MSCI bersifat adil dan konsisten di seluruh bursa dunia.

“Sedang diproses, target minggu ini, insyaallah ya. Karena kami harus koordinasi dengan KSEI dan OJK,” ujar Iman saat ditemui di Jakarta, Rabu, (5/11/2025).

Ia sendiri belum mau membuka isi surat tersebut secara detail. Hal tersebut dilakukan agar, persepsi investor maupun perusahaan tercatat terkait dengan aturan free float yang dikeluarkan oleh MSCI ini tidak semakin liar.

“Isinya rahasia dulu, nanti kalau sudah jadi baru saya kasih. Belum jadi kadang-kadang suka salah persepsi,” tambahnya sambil tersenyum.

BEI Minta Fairness ke MSCI Soal Aturan Free Float

Lebih lanjut, Iman menegaskan BEI tidak dalam posisi memprotes MSCI. Menurutnya, langkah komunikasi dengan MSCI ini bertujuan memastikan adanya equality atau kesetaraan perlakuan antar-bursa, tanpa bermaksud mengintervensi kebijakan lembaga indeks tersebut.

“Kita tidak protes. Kita cuma menanyakan apakah aturan ini berlaku di semua bursa lainnya. Dan kita juga menjelaskan bagaimana free float di Indonesia diterapkan, yang mungkin berbeda dari negara lain,” ujar Iman.

Sementara itu Direktur BEI, Irvan Susandy, mengatakan bahwa, BEI mempertanyakan mengapa penyesuaian metodologi free float yang dilakukan MSCI hanya diterapkan untuk Indonesia, tidak untuk negara lain. “Kami ingin tahu dasar kebijakan tersebut, karena dari rilisnya terlihat hanya Indonesia yang terkena dampak untuk perhitungan free float,” jelasnya saat ditemui di Gedung BEI, Senin, (3/11/2025).

Sebelumnya, MSCI berencana mengubah metodologi perhitungan Free Float Inclusion Factor (FIF) untuk saham Indonesia. Perubahan metodologi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar karena dapat menurunkan kapitalisasi pasar yang diakui secara global, meskipun nilai saham di bursa domestik tidak berubah.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini