economixbuzz Versi penuh
Ekonomi & Bisnis

Transaksi Timah JFX Tembus Rp4 Triliun, Jadi Fondasi Bursa Mineral

Aktivitas perdagangan timah ekspor melalui Jakarta Futures Exchange (JFX) mencatatkan volume 4.210 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp4,06 triliun sepanjang Agustus 2026. Aktivitas perdagangan tertinggi terjadi pada periode 23–29 Agustus 2026.

Oleh Praditya 04 Sep 2026 09:31 4 menit baca

EBuzz - Aktivitas perdagangan timah ekspor melalui Jakarta Futures Exchange (JFX) mencatatkan volume 4.210 lot dengan nilai transaksi sekitar Rp4,06 triliun sepanjang Agustus 2026. Aktivitas perdagangan tertinggi terjadi pada periode 23–29 Agustus 2026. Pada periode tersebut, volume transaksi timah mencapai 1.405 lot dengan nilai sekitar Rp1,34 triliun.

Capaian tersebut melanjutkan perkembangan perdagangan fisik timah melalui bursa yang telah berlangsung sejak 2019. Dalam lima tahun pertama penyelenggaraannya, lebih dari 95% transaksi timah nasional tercatat melalui JFX dengan melibatkan lebih dari 60 pelaku usaha aktif, termasuk pembeli dari berbagai negara.

Direktur Utama JFX Yazid Kanca Surya mengatakan perkembangan perdagangan timah dapat menjadi bagian dari persiapan Indonesia dalam membangun Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) yang ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027.

"Sepanjang 2025, sekitar 99% transaksi timah nasional sudah dilakukan melalui JFX. Artinya, untuk timah kita sudah memiliki pasar yang berjalan, pelaku yang aktif, serta mekanisme perdagangan yang digunakan oleh industri. Fondasi seperti ini yang menurut kami dapat dimanfaatkan dan diperkuat untuk mempercepat kesiapan BMKS," ujar Kanca melalui keterangan tertulisnya, Kamis (3/9/2026). (4/9).

Baca Juga : OJK Bakal Terbitkan Aturan Bursa Mineral, Ini Targetnya

Pada pekan terakhir Agustus, volume transaksi timah melalui JFX meningkat 65,29% menjadi 1.405 lot dari 850 lot pada pekan sebelumnya. Nilai transaksi juga naik 62,76% menjadi Rp1,34 triliun dari sebelumnya Rp824,35 miliar.

Di tengah peningkatan aktivitas transaksi tersebut, harga rata-rata timah di JFX terkoreksi 1,54%. Pergerakan tersebut sejalan dengan harga rata-rata Tin Ingot di London Metal Exchange (LME) yang turun sekitar 1,20% dari USD55.891 menjadi USD55.223 per ton.

JFX menyatakan perdagangan timah telah didukung sejumlah fungsi yang dibutuhkan dalam perdagangan komoditas melalui bursa, mulai dari sistem perdagangan, kliring dan penyelesaian transaksi, pengawasan, hingga pelaporan.

Ekosistem perdagangan tersebut juga mempertemukan produsen dan penjual dari Indonesia dengan pembeli domestik maupun internasional.

Ekosistem Bursa Mineral Komoditas Strategis

Kanca mengatakan infrastruktur dan ekosistem perdagangan yang telah berjalan di JFX dapat dimanfaatkan dalam pengembangan BMKS, dengan penyesuaian terhadap karakteristik komoditas yang nantinya diperdagangkan.

"Dengan target BMKS beroperasi pada 2027, menurut kami yang terpenting adalah bagaimana kapabilitas yang sudah dimiliki Indonesia dapat langsung dimanfaatkan. Sistem, mekanisme, dan pelaku pasarnya sudah ada. Untuk timah bahkan sudah berjalan dalam skala yang sangat besar. Jadi JFX memiliki basis yang kuat untuk bergerak lebih cepat," kata Kanca.

Menurut Kanca, pengalaman perdagangan timah juga memberikan gambaran mengenai peran bursa dalam membangun data pasar domestik. Transaksi yang tercatat melalui bursa menghasilkan data mengenai harga, volume, serta aktivitas pelaku yang dapat digunakan dalam proses pembentukan harga komoditas di Indonesia.

Hal tersebut sejalan dengan salah satu tujuan pengembangan BMKS, yakni memperkuat posisi Indonesia dalam pembentukan harga komoditas strategis.

"Untuk timah, proses itu sebenarnya sudah mulai berjalan. Harga JFX sudah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan ketika pembeli melakukan transaksi timah Indonesia. Dengan pasar yang semakin dalam dan transaksi yang semakin kuat, basis kita untuk membangun harga referensi dari Indonesia juga akan semakin kuat," ungkapnya.

Perdagangan Komoditas Multilateral

Selain timah, aktivitas perdagangan komoditas multilateral di JFX tetap berlangsung sepanjang Agustus 2026. Pada periode 1–29 Agustus 2026, total volume transaksi multilateral tercatat sekitar 105.686 lot dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp22,09 triliun.

Olein menjadi salah satu kontributor utama dengan volume transaksi sebanyak 77.533 lot dan nilai sekitar Rp8,64 triliun.

Pada pekan terakhir Agustus, harga rata-rata transaksi Olein di JFX meningkat 3,39% dibandingkan pekan sebelumnya. Kenaikan tersebut sejalan dengan harga acuan FPOL Bursa Malaysia Derivatives (BMD) yang naik sekitar 4,51% dari USD1.175 menjadi USD1.228 per ton.

Sementara itu, perdagangan emas digital secara on-exchange juga mencatat peningkatan aktivitas pada periode 23–29 Agustus 2026.

Volume transaksi emas digital meningkat 191,25% menjadi 2,33 dari 0,80 pada pekan sebelumnya. Nilai transaksi juga naik 195,14% dari sekitar Rp2,02 juta menjadi Rp5,97 juta.

Baca Juga : JFX Dukung Pembentukan BMKS, Bidik RI Jadi Price Setter

Kanca mengatakan perbedaan pergerakan transaksi dan harga pada setiap komoditas menunjukkan karakteristik pasar yang berbeda. Menurut dia, pengalaman JFX dalam mengembangkan perdagangan berbagai komoditas dapat menjadi dasar dalam menentukan mekanisme perdagangan yang sesuai untuk komoditas yang nantinya dikembangkan melalui BMKS.

"Setiap komoditas punya karakteristik yang berbeda. Mekanisme yang berhasil untuk satu komoditas belum tentu bisa diterapkan dengan cara yang sama pada komoditas lainnya. Kita harus memahami apa yang dibutuhkan penjual dan pembeli, kemudian membangun mekanisme yang sesuai dengan karakter pasar tersebut," tutup Kanca.
Topik terkait
Transaksi Timah Jakarta Futures Exchange JFX Bursa Mineral dan Komoditas Strategis