economixbuzz Versi penuh
Pasar Modal

The Fed Naikkan Suku Bunga, Sucor Sekuritas Ungkap Prospek IHSG

Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) secara resmi, menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points (bps) menjadi 3,75%-4,00%.

Oleh Praditya 17 Sep 2026 09:21 4 menit baca

EBuzz - Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) secara resmi, menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points (bps) menjadi 3,75%-4,00%. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak Juli 2023.

Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026. Dalam pernyataannya, The Fed menyebut inflasi masih berada pada level tinggi sehingga kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung kembalinya inflasi menuju target 2%.

The Fed juga memberikan sinyal masih terdapat ruang untuk satu kali kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir 2026. Berdasarkan proyeksi terbaru, mayoritas pejabat The Fed memperkirakan kenaikan lanjutan pada tahun ini.

Sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga pada level 4,25%-4,50% hingga Agustus 2025. Suku bunga kemudian dipangkas pada September, Oktober, dan Desember 2025 hingga mencapai 3,50%-3,75%. Pada Januari hingga Juli 2026, The Fed mempertahankan suku bunga acuan.

Menanggapi keputusan tersebut, Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya mengatakan, dampak kenaikan suku bunga terhadap pasar dalam jangka pendek diperkirakan masih terbatas karena langkah tersebut telah diperhitungkan oleh pasar.

"Jangka pendek, tekanan masih ada tapi terbatas, karena kenaikan 25 bps ke 3,75%-4,00% sudah hampir sepenuhnya diperhitungkan pasar, sekitar 92% priced-in. Artinya, hike itu sendiri bukan lagi kejutan," ujar Hendry melalui keterangan tertulisnya, Kamis (17/9).

Baca Juga : Wall Street Ambruk, Saham Chip AI Terseret Kekhawatiran Belanja Modal

Menurut dia, arah pasar selanjutnya akan lebih banyak ditentukan oleh sinyal kebijakan The Fed ke depan, terutama apakah kenaikan tersebut menjadi langkah satu kali atau berlanjut ke siklus pengetatan baru.

"Yang benar-benar menentukan arah justru bukan angka bunganya, melainkan sinyal ke depan: apakah ini kenaikan sekali lalu berhenti, atau awal dari siklus pengetatan baru. Nada Kevin Warsh dan proyeksi Fed lah yang akan menggerakkan pasar," katanya.

Kondisi Rupiah

Untuk jangka menengah, Hendry mengatakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan dipengaruhi oleh kondisi rupiah dan daya tarik imbal hasil aset domestik.

Ia menilai, imbal hasil US Treasury (UST) yang berada di sekitar 5% berpotensi mempersempit selisih imbal hasil dengan obligasi Indonesia sehingga memengaruhi daya tarik aliran dana asing.

"Selama imbal hasil UST bertahan di sekitar 5% — tertinggi sejak 2007 — selisih dengan obligasi Indonesia menyempit, sehingga insentif dana asing untuk masuk berkurang," terang Hendry.

Hendry juga menyebut pelemahan rupiah serta ruang kebijakan Bank Indonesia (BI) menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Menurut dia, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap sektor perbankan yang memiliki kontribusi besar terhadap pergerakan IHSG.

"Selama oil bertahan di atas 100 dolar dan yield UST di 5%, tekanan ini belum akan cepat hilang," katanya.

Sementara untuk jangka panjang, Hendry mengatakan arah IHSG akan lebih ditentukan oleh fundamental domestik, termasuk kredibilitas fiskal, pertumbuhan laba emiten, dan arus dana masuk.

"Tekanan dari siklus Fed sifatnya sementara dan cenderung kembali normal begitu harga minyak mereda dan pengetatan selesai," ujar Hendry.

Skenario Pergerakan IHSG

Ia menambahkan, setelah tekanan eksternal mereda, arah IHSG akan kembali dipengaruhi oleh kondisi fundamental domestik dan perkembangan laba perusahaan tercatat.

Dalam analisisnya, Hendry membagi potensi pergerakan IHSG ke dalam tiga skenario. untuk skenario pertama, pergerakan IHSG berpotensi bergerak ke kisaran 6.000-6.150.

Skenario ini dapat terjadi apabila The Fed kembali memberikan sinyal hawkish dan membuka peluang kenaikan suku bunga pada Desember, disertai kenaikan yield UST, harga minyak yang kembali meningkat, rupiah menembus Rp18.000, serta meningkatnya arus dana keluar asing.

Sementara dalam skenario moderat, IHSG diperkirakan bergerak konsolidasi pada kisaran 6.290-6.460.

"Skenario tersebut terjadi apabila kenaikan suku bunga sesuai ekspektasi pasar dan The Fed memberikan sinyal bahwa kenaikan tersebut hanya dilakukan satu kali," ucapnya.

Baca Juga : Sucor Mau Bawa Dua Calon Emiten Jumbo ke Bursa, Siapa Saja?

Dalam skenario optimistis, IHSG berpotensi bergerak menuju kisaran 6.650-6.800. Faktor pendukungnya antara lain sikap The Fed yang lebih lunak, penurunan harga minyak ke bawah US$90 per barel akibat meredanya ketegangan geopolitik, serta penurunan yield UST dari level 5%.

"Untuk saat ini, bias condong ke pesimis-moderat, selama minyak bertahan di atas 100 dolar dan yield UST bertengger di 5%," ungkap Hendry.