Rupiah Tertekan Konflik Iran-AS, BI Patok Proyeksi Rp17.300-Rp17.800
EBuzz - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah sempat menguat signifikan sebelum kembali tertekan akibat eskalasi geopolitik global. Rupiah bahkan nyaris menyentuh level Rp17.400 per dolar AS pada pekan lalu.
Momentum penguatan tersebut berbalik arah pada Jumat (11/9/2026). Rupiah terdepresiasi 0,31% dan mengakhiri perdagangan di level Rp17.585 per dolar AS.
"Sebenarnya beberapa hari lalu, kita sudah di Rp17.500-an dan bahkan hampir menyentuh Rp17.400-an. Namun demikian, gejolak global memburuk, karena perang Iran-AS makin meningkat, kita (rupiah) agak tertekan dalam 2 hari terakhir. Tetapi alhamdulillah masih di level Rp17.600-an," ujar Destry dalam rapat kerja dengan DPD RI, Senin (14/9/2026).
BI Pertahankan Proyeksi Rp17.300 hingga Rp17.800
Bank Indonesia mematok proyeksi pergerakan rupiah pada kisaran Rp17.300 sampai Rp17.800 per dolar AS untuk tahun ini dan tahun depan. Otoritas moneter menilai rentang tersebut masih mencerminkan fundamental ekonomi domestik di tengah tekanan eksternal yang meningkat.
Rupiah Dibuka Menguat di Awal Pekan
Nilai tukar rupiah membuka perdagangan pekan ini dengan apresiasi 0,14% ke posisi Rp17.560 per dolar AS, berdasarkan data Refinitiv. Penguatan ini membalikkan pelemahan yang terjadi pada perdagangan akhir pekan sebelumnya.
Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia justru menguat 0,05% ke posisi 99,176 pada pukul 09.00 WIB. Penguatan indeks dolar ini menambah tekanan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Baca Juga Arsari Tambang Gandeng Asahi Solder Perkuat Hilirisasi Timah di Babel
Sentimen Timur Tengah Bayangi Pergerakan Rupiah
Pelaku pasar memperkirakan sentimen eksternal akan terus mendominasi arah pergerakan rupiah sepanjang hari ini. Perkembangan konflik di Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak dunia menjadi faktor utama yang menggerakkan indeks dolar AS.
Kekhawatiran pasar meningkat setelah serangan baru menghantam Arab Saudi dan sejumlah kapal di kawasan Teluk pada Minggu. Eskalasi konflik tersebut memperbesar risiko gangguan pasokan energi dan jalur pengiriman minyak dunia, yang berpotensi memicu volatilitas lebih lanjut pada pasar valuta asing domestik.