Rupiah Menguat, Redanya Yield US Treasury dan Minyak Jadi Penopang
EBuzz — Rupiah membukukan penguatan pada perdagangan Jumat (18/9/2026) pagi, melanjutkan momentum positif yang terbentuk sejak sesi sebelumnya. Mata uang Garuda menyentuh level Rp17.747 per dolar AS di pasar spot hingga pukul 10.00 WIB.
Data konversi real-time Google mencatat rupiah diperdagangkan di posisi Rp17.745 per dolar AS pada pukul 10.10 WIB (03.05 UTC). Angka ini menunjukkan penguatan sekitar 0,09% dibandingkan pembukaan awal perdagangan di level Rp17.764 per dolar AS.
Bank Indonesia mencatat kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp17.753 per dolar AS pada hari sebelumnya, mengonfirmasi tren apresiasi yang berlanjut hingga awal pekan ini.
Harga Minyak Turun, Tekanan Inflasi Mereda
Pelaku pasar merespons positif penurunan harga minyak mentah dunia. Harga minyak jenis Brent melorot ke bawah level USD104 per barel, melonggarkan kekhawatiran investor terhadap potensi lonjakan biaya energi global.
Penurunan harga komoditas energi ini meredakan tekanan inflasi yang sebelumnya membayangi pasar keuangan global. Investor pun mengurangi ekspektasi terhadap kebijakan moneter ketat berkepanjangan di sejumlah bank sentral utama.
Yield Obligasi AS Melandai, Dolar Kehilangan Tenaga
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun merosot ke kisaran 4,93%. Penurunan yield ini menahan penguatan dolar AS secara global dan membuka ruang pemulihan bagi mata uang negara berkembang di kawasan Asia.
Investor global mengalihkan sebagian portofolio ke aset berisiko di pasar berkembang seiring melandainya imbal hasil obligasi AS. Pergeseran ini turut menopang penguatan rupiah pada perdagangan pagi ini.
Fundamental Domestik Tahan Arus Modal Keluar
Stabilitas fundamental ekonomi nasional membantu mengurangi risiko capital outflow dari pasar keuangan domestik. Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga kisaran sasaran stabilitas kurs sekaligus mengendalikan inflasi nasional, sebuah sinyal yang direspons positif oleh pelaku pasar.
Otoritas moneter terus memantau pergerakan nilai tukar guna memastikan volatilitas tetap terkendali di tengah dinamika pasar global.
Baca Juga Penuhi Target Free Float, YUPI Siapkan 4 Skema Strategis
Dampak ke Sektor Riil dan Pasar Saham
Penguatan rupiah pada awal perdagangan memberikan sentimen positif bagi stabilitas sektor keuangan domestik. Pelemahan tekanan dolar AS berpotensi menekan beban biaya impor energi dan bahan baku industri, yang pada gilirannya dapat meringankan tekanan biaya produksi di sektor riil.
Analis memperkirakan penguatan mata uang ini juga akan memberikan angin segar bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), seiring membaiknya sentimen investor terhadap aset domestik.