economixbuzz Versi penuh
Ekonomi & Bisnis

Total Bangun Persada Perketat Arus Kas di Tengah Lonjakan Biaya Material

Oleh Clara 16 Sep 2026 15:16 3 menit baca

EBuzz - PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) memperketat pengelolaan arus kas menyusul kenaikan harga material dan biaya logistik yang berpotensi mendongkrak kebutuhan modal kerja proyek konstruksi. Perseroan terus memantau perkembangan biaya tersebut guna menjaga kelancaran operasional di setiap proyek yang sedang berjalan.

Perseroan Terapkan Manajemen Kas Prudent

Corporate Secretary Total Bangun Persada Anggie S. Sidharta menegaskan kenaikan biaya material dan logistik menjadi perhatian serius manajemen. Perseroan memonitor perkembangan biaya tersebut karena berpotensi memengaruhi kebutuhan dan kelancaran operasional masing-masing proyek.

"Kondisi tersebut tentunya menjadi salah satu perhatian perusahaan. Kenaikan harga material maupun biaya logistik tetap dimonitor karena dapat mempengaruhi kebutuhan dan kelancaran operasional proyek," ujar Anggie kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).

Anggie memastikan perseroan menerapkan pengelolaan cash flow secara prudent dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan setiap proyek secara spesifik.

Restitusi Pajak Jadi Sorotan Industri

Perseroan turut mencermati persoalan restitusi pajak yang membebani pelaku industri konstruksi secara luas. Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) sebelumnya melaporkan nilai restitusi pajak yang masih tertahan dari anggotanya telah menembus lebih dari Rp10 triliun.

Ketua Umum AKI sekaligus Direktur Utama PT Bangun Cipta Kontraktor Djoko Sarwono mengungkapkan sebagian pengajuan restitusi tersebut bahkan tertahan lebih dari satu tahun. Anggie menyatakan TOTL tetap menjalankan proses restitusi pajak sesuai ketentuan yang berlaku, meski perseroan tidak memerinci nilai restitusi yang masih dalam proses.

"Terkait restitusi pajak, perusahaan tetap melakukan proses sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Timing penyelesaiannya dapat berpengaruh terhadap cash flow dan menjadi salah satu perhatian dalam pengelolaan arus kas perusahaan," jelasnya.

Siapkan Contingency Plan Hadapi Tekanan Margin

Di tengah margin bisnis kontraktor yang relatif terbatas, TOTL menyiapkan langkah antisipasi apabila kenaikan harga material maupun biaya proyek tidak dapat sepenuhnya diteruskan ke nilai kontrak.

"Ini menjadi perhatian khusus perusahaan dan terus dilakukan monitoring. Perusahaan mempersiapkan contingency plan sesuai dengan kondisi kontraktual masing-masing proyek," kata Anggie.

Kontrak Baru Ditopang Proyek Data Center dan Rumah Sakit

TOTL membidik perolehan kontrak baru senilai Rp4 triliun sepanjang 2026. Perseroan telah mengantongi kontrak baru sekitar Rp2,78 triliun hingga Juni 2026, terutama berasal dari proyek pembangunan pusat data atau data center, rumah sakit, hospitality, dan gedung perkantoran.

Perseroan masih menyimpan pipeline proyek dalam proses tender senilai sekitar Rp17,7 triliun. Pipeline ini menopang optimisme TOTL untuk mencapai target kontrak baru hingga akhir tahun.

Baca Juga Dirut Summarecon Agung (SMRA) Terjaring OTT KPK

Laba Bersih Melesat, Target Pendapatan Rp3,9 Triliun

Selain target kontrak baru, TOTL membidik pendapatan usaha Rp3,9 triliun dan laba bersih Rp400 miliar pada 2026. Perseroan mencatatkan pendapatan usaha Rp2,05 triliun pada semester I-2026, tumbuh 22,75% secara tahunan dibandingkan Rp1,67 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 54,60% menjadi Rp269,74 miliar, dari sebelumnya Rp174,48 miliar. Perseroan akan mengandalkan efisiensi dan optimalisasi operasional untuk menjaga momentum pertumbuhan kinerja memasuki semester II-2026, di tengah dinamika industri konstruksi yang masih menantang.

Capex Terbatas, Fokus pada Teknologi dan Peralatan Proyek

TOTL mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp25 miliar tahun ini. Perseroan akan menggunakan dana tersebut untuk pengadaan software, peralatan teknologi informasi (IT), serta peralatan proyek guna mendukung efisiensi operasional ke depan.