economixbuzz Versi penuh
Pasar Modal

Konsolidasi Tjokro Group Mulai Membuahkan Hasil, Pendapatan GPSO Melesat 194,07% di 9M26

PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) menunjukkan kinerja positif setelah terkonsolidasi dengan jaringan pengendali barunya PT PIMSF Pulogadung di Tjokro Group

Oleh MRVauzi 02 Nov 2026 10:14 4 menit baca

EBuzz Emiten yang bergerak di bidang penyediaan solusi geospasial dan perindustrian, PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO), mencatatkan lonjakan kinerja operasional pada periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 (9M26). Pertumbuhan penjualan yang signifikan ini mencerminkan hasil positif awal pasca konsolidasi bisnis dan masuknya pemegang saham pengendali baru, PT PIMSF Pulogadung (bagian dari Tjokro Group).

Berdasarkan laporan keuangan interim perusahaan yang dipublikasikan pada 30 Oktober 2026, GPSO berhasil meraup penjualan neto sebesar Rp9,18 miliar hingga akhir September 2026. Angka ini melonjak tajam 194,07% atau naik Rp6,06 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu (9M25) sebesar Rp3,12 miliar.

Kontribusi Pendapatan Ditopang Ekosistem Tjokro Group
Peningkatan tajam penjualan GPSO disokong kuat oleh kontribusi transaksi dengan pihak-pihak berelasi dari jaringan bisnis Tjokro Group yang menyumbangkan 85,96% dari total pendapatan.

Kontributor utama penjualan barang dagang dan jasa GPSO selama 9M26 meliputi PT Tjokro Bersaudara Sangattaindo Rp2,41 miliar  setara 26,20% dari total penjualan, PT Morita Tjokro Gearindo: Rp2,17 miliar  setara 23,68% dari total penjualan, PT Geoprima Sistem Indonesia Rp1,20 miliar  setara 13,06% dari total penjualan dan pelanggan pihak ketiga & lainnya Rp3,40 miliar.

Sebagai perbandingan, pada periode 9M25 sebelum konsolidasi, mayoritas penjualan sebesar 56% ditopang oleh pihak ketiga PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) atau Harita sebesar Rp1,76 miliar.

Seiring melonjaknya volume penjualan, beban pokok penjualan GPSO membengkak 559,58% (naik Rp6,81 miliar) dari Rp1,22 miliar pada 9M25 menjadi Rp8,03 miliar pada 9M26. Kondisi tersebut menekan laba kotor (laba bruto) perusahaan sebesar -39,62% (turun Rp754,63 juta) menjadi Rp1,15 miliar pada 9M26, dari sebelumnya Rp1,90 miliar pada 9M25.

Meski laba kotor tertekan, GPSO mencatatkan efisiensi pada pos beban operasional. Beban Penjualan turun -44,98%  atau berkurang Rp215,77 juta menjadi Rp263,86 juta  di bandingkan 9M25 senilai Rp479,63 juta. Beban Umum dan Administrasi turun -41,28%  atau berkurang Rp2,27 miliar menjadi Rp3,23 miliar  dibandingkan 9M25: Rp5,51 miliar.

Dampak dari efisiensi beban usaha tersebut berhasil menekan rugi usaha (rugi operasi) perusahaan sebesar 42,49%, membait dari rugi operasi Rp4,08 miliar pada 9M25 menjadi rugi operasi Rp2,35 miliar pada 9M26.

Rugi Bersih Membaik Signifikan
Di sisi non-operasional, perusahaan mencatatkan pendapatan lain-lain sebesar Rp610,37 juta (dibandingkan beban lain-lain Rp42,11 juta pada 9M25), yang salah satunya ditopang oleh pemulihan penyisihan penurunan nilai piutang sebesar Rp689,34 juta.

Dengan tidak adanya pencatatan beban pajak kini maupun pajak tangguhan pada periode ini, rugi sebelum pajak, rugi tahun berjalan, serta rugi komprehensif GPSO tercatat sama di angka Rp1,74 miliar.

Angka rugi bersih ini membaik drastis hingga 57,88% atau susut Rp2,39 miliar dari posisi rugi bersih Rp4,13 miliar pada periode 9M25. Rugi bersih per saham dasar (Basic EPS) pun membaik menjadi -Rp2,61 dari sebelumnya -Rp6,19 per saham.

Kinerja posisi keuangan perusahaan menunjukkan penguatan substansial seiring permodalan baru yang disuntikkan oleh pengendali. Kas dan Setara Kas (Akhir Periode) melonjak 71,63% (naik Rp597,21 juta) menjadi Rp1,43 miliar per 30 September 2026, dibandingkan posisi Rp833,69 juta pada 31 Desember 2025.

Total aset tumbuh pesat 62,76% (naik Rp30,69 miliar) menjadi Rp79,58 miliar per 30 September 2026 (31 Des 2025: Rp48,89 miliar). Lonjakan ini didorong oleh kenaikan signifikan pada uang muka dan beban dibayar dimuka (posisi Rp29,35 miliar) serta ekspansi piutang usaha pihak berelasi.

Total liabilitas naik 63,59% (bertambah Rp3,95 miliar) menjadi Rp10,17 miliar per 30 September 2026 (31 Des 2025: Rp6,22 miliar). Kenaikan dipicu oleh pertumbuhan utang usaha dan utang lain-lain kepada pihak berelasi untuk mendukung kebutuhan operasional. 

Total ekuitas melonjak 62,64% (naik Rp26,73 miliar) menjadi Rp69,41 miliar per 30 September 2026 (31 Des 2025: Rp42,67 miliar).

Pertumbuhan ekuitas yang masif dipengaruhi oleh transaksi penambahan modal disetor serta penerimaan uang muka setoran modal sebesar Rp25,14 miliar dari PT PIMSF Pulogadung pada September 2026. Hal ini mencerminkan komitmen penuh pengendali baru dalam memperkuat permodalan dan ekspansi bisnis GPSO ke depan.

Manajemen PT Geoprima Solusi Tbk dalam catatan laporan keuangannya, menegaskan komitmen penuh terhadap tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) serta transparansi informasi keuangan. Berdasarkan Surat Pernyataan Direksi tertanggal 26 Oktober 2026 yang ditandatangani oleh Direktur Utama Dionysius Tjokro dan Direktur Axel Tobias Joel, pihak manajemen menyatakan bahwa Direksi bertanggung jawab penuh atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan interim Perusahaan per 30 September 2026.

Laporan keuangan telah disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) di Indonesia. Seluruh informasi yang dimuat dalam laporan keuangan telah disajikan secara lengkap dan benar, tidak mengandung informasi atau fakta material yang menyesatkan, serta tidak menghilangkan fakta material yang dapat mempengaruhi keputusan investor. Manajemen berkomitmen menjaga efektivitas sistem pengendalian internal Perusahaan guna mengamankan aset serta mendukung keberlanjutan operasional pasca-konsolidasi bisnis dengan Tjokro Group.

Topik terkait
PT Geoprima Solusi Tbk GPSO PT PIMSF Pulogadung Tjokro Group