economixbuzz Versi penuh
Pasar Modal

Efek Refinancing Utang, Laba Bersih KIJA Ambles 38 Persen di Q3

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp391,7 miliar hingga September 2026. Capaian tersebut mencatatkan penurunan sebesar 38%.

Oleh Praditya 05 Nov 2026 13:03 3 menit baca

EBuzz - PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp391,7 miliar hingga September 2026. Capaian tersebut mencatatkan penurunan sebesar 38% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp634,6 miliar.

Penurunan laba bersih tersebut dipengaruhi oleh dampak sejumlah beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off), yang timbul dari aksi restrukturisasi utang melalui pembiayaan kembali (refinancing) Senior Notes menjadi fasilitas pinjaman bank. Biaya non-operasional tersebut mencakup rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif atau lindung nilai (hedging), serta percepatan amortisasi terkait Senior Notes yang semula dijadwalkan jatuh tempo pada 2027.

Mengenai latar belakang aksi korporasi tersebut, manajemen perseroan mengonfirmasi bahwa langkah refinancing diambil untuk mengalihkan risiko nilai tukar valuta asing menjadi mata uang domestik.

"Langkah refinancing tersebut dilakukan dengan mengalihkan Senior Notes berdenominasi dolar Amerika Serikat menjadi fasilitas pinjaman bank dalam mata uang rupiah," ungkap Manajemen Jababeka dalam keterbukaan informasi, Rabu (4/11/2026). (5/11).

Manajemen mengungkapkan, di tengah tekanan beban non-operasional tersebut, kinerja pendapatan (top-line) KIJA tetap mencatatkan pertumbuhan positif. Hingga kuartal III-2026, perseroan membukukan total pendapatan sebesar Rp4,25 triliun, atau meningkat 16% dibandingkan Rp3,67 triliun pada periode yang sama tahun 2025.

Kontribusi Segmen Bisnis

Dari sisi kontribusi bisnis, pilar Land Development & Property meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 17% menjadi Rp1,91 triliun. Capaian ini ditopang oleh peningkatan penjualan pada tiga segmen utama, yaitu tanah matang, tanah dan bangunan pabrik, serta tanah dan rumah.

Penjualan tanah matang tercatat mencapai Rp1,63 triliun, naik dari posisi Rp1,43 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan tanah dan bangunan pabrik melonjak 291% menjadi Rp126 miliar dari sebelumnya Rp32,2 miliar. Penjualan tanah dan rumah turut tumbuh 18% menjadi Rp77,8 miliar.

"Penguatan pilar ini juga didorong oleh peningkatan pengakuan penjualan lahan industri secara signifikan pada kuartal III-2026 yang mencapai Rp1,91 triliun, melampaui raihan semester pertama 2026 yang tercatat sebesar Rp974,9 miliar," terangnya.

 

Pada pilar Infrastructure, perseroan mengantongi pendapatan sebesar Rp2,24 triliun, naik 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,95 triliun. Segmen ketenagalistrikan menjadi penyumbang terbesar dengan pendapatan Rp1,51 triliun, naik dari Rp1,38 triliun seiring kenaikan konsumsi listrik tenant di kawasan Kendal dan Cikarang.

Segmen jasa dan pemeliharaan mencatatkan pertumbuhan sebesar 33% menjadi Rp525,6 miliar dari Rp398,5 miliar, didorong oleh peningkatan aktivitas operasional tenant di Kendal serta penyesuaian tarif dan volume layanan di Cikarang. Selain itu, pendapatan dari Cikarang Dry Port meningkat menjadi Rp211,8 miliar dari Rp174,6 miliar yang ditopang oleh kenaikan volume peti kemas. Secara keseluruhan, pendapatan berulang (recurring revenue) dari pilar infrastruktur ini menyumbang porsi 53% terhadap total pendapatan konsolidasi KIJA.

Baca Juga : Topang Recurring Income, Jababeka (KIJA) Pacu Bisnis Infrastruktur & KEK

Sementara itu, pilar Leisure & Hospitality membukukan pendapatan sebesar Rp97,6 miliar, dengan bisnis lapangan golf menjadi kontributor utama yang menyumbang sekitar 65% dari total pendapatan pilar tersebut.
Topik terkait
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. KIJA Saham KIJA Kinerja Keuangan KIJA Laba Bersih KIJA