Tokocrypto Ungkap Arah Baru Pasar Kripto Indonesia
Pasar aset kripto Indonesia mulai memasuki fase perkembangan yang lebih matang. Perkembangan tersebut ditandai dengan pergeseran fokus dari adopsi ritel menuju pemanfaatan aset digital, peningkatan partisipasi investor institusional
EBuzz - CEO Tokocrypto Calvin Kizana menilai pasar aset kripto Indonesia mulai memasuki fase perkembangan yang lebih matang. Perkembangan tersebut ditandai dengan pergeseran fokus dari adopsi ritel menuju pemanfaatan aset digital, peningkatan partisipasi investor institusional, dan tokenisasi.
Calvin mengatakan pertumbuhan adopsi ritel dalam beberapa tahun terakhir telah membentuk basis pengguna aset digital di Indonesia. Menurutnya, perkembangan industri selanjutnya akan berfokus pada pendalaman ekosistem.
"Kripto di Indonesia bukan lagi sebuah eksperimen. Kita tidak sedang memulai adopsi, tapi adopsi itu sudah terjadi," kata Calvin dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Menurut Calvin, perkembangan pasar aset kripto Indonesia tidak lagi hanya diukur dari jumlah pengguna. Pemanfaatan aset digital dinilai mulai diarahkan pada integrasi dengan sektor keuangan dan pengembangan utilitas yang lebih luas.
"Peluangnya sekarang adalah bergerak dari sekadar adopsi ritel menuju utilitas keuangan yang teregulasi, partisipasi institusional, dan tokenisasi," ujarnya.
Tingkat Adopsi Aset Digital Indonesia
Tingkat adopsi aset digital Indonesia tercermin dalam Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025. Dalam indeks tersebut, Indonesia berada di peringkat ketujuh dari 151 negara berdasarkan tingkat adopsi kripto berbasis masyarakat atau grassroots adoption.
Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah konsumen perdagangan aset keuangan digital di Indonesia mencapai 22,93 juta hingga Juli 2026. Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp20,52 triliun.
Calvin mengatakan besarnya basis pengguna tersebut perlu diikuti dengan strategi yang menyesuaikan karakteristik pasar Indonesia. Menurutnya, kondisi pasar Indonesia berbeda dengan negara-negara lain di kawasan Asia.
"Indonesia sangat berbeda dari Singapura, Vietnam, Thailand, bahkan India. Regulasinya berbeda, perilaku pengguna dan pembayarannya berbeda, budayanya berbeda, ekspektasi konsumennya pun berbeda," ungkap Calvin.
Ia mengatakan pemahaman terhadap karakteristik lokal menjadi bagian penting dalam pengembangan bisnis aset digital di Indonesia. Strategi ekspansi, menurut Calvin, tidak hanya mengandalkan modal dan pemasaran, tetapi juga perlu memperhatikan kepercayaan pengguna.
"Uang bisa membeli awareness, bisa membeli download, bahkan bisa membeli volume sementara. Tapi uang tidak bisa membeli kepercayaan karena kepercayaan tidak bisa dipotong jalan pintas," ujar Calvin.
Menurut dia, tata kelola, keamanan, dan kepatuhan terhadap regulasi menjadi aspek yang perlu diperhatikan oleh pelaku industri dalam mengembangkan bisnis aset digital di Indonesia.
Baca Juga : Bos Tokocrypto Ungkap Revisi UU P2SK Bakal Pertebal Transparansi Industri Kripto
Calvin mengatakan arah perkembangan pasar kripto Indonesia ke depan tidak hanya akan berkaitan dengan pergerakan harga aset seperti Bitcoin. Dengan basis pengguna dan tingkat adopsi yang telah terbentuk, perkembangan industri akan mencakup penguatan ekosistem serta pemanfaatan aset digital dalam sistem keuangan yang lebih luas.