Pendapatan PTSN Tembus Rp3,2 T, PBV Di Bawah 1 Kali

PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) membukukan pendapatan sebesar US$182,28 juta atau sekitar Rp3,2 triliun pada semester I-2026. Pendapatan emiten manufaktur elektronik tersebut melonjak 65,2%.

Pendapatan PTSN Tembus Rp3,2 T, PBV Di Bawah 1 Kali
Kantor PT Sat Nusapersada Tbk. (PTSN). Dok : Istimewa
Bacakan Artikel

EBuzz - PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) membukukan pendapatan sebesar US$182,28 juta atau sekitar Rp3,2 triliun pada semester I-2026. Pendapatan emiten manufaktur elektronik tersebut melonjak 65,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$110,32 juta.

 

Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum diikuti peningkatan laba. PTSN mencatatkan laba tahun berjalan sebesar US$4,69 juta pada enam bulan pertama 2026, turun 30,4% dibandingkan US$6,74 juta pada semester I-2025.

Mengutip laporan keuangan perseroan, kenaikan pendapatan diikuti peningkatan beban pokok pendapatan menjadi US$167,45 juta dari sebelumnya US$94,96 juta. Kondisi ini membuat laba kotor PTSN turun menjadi US$14,83 juta, dibandingkan US$15,35 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Sejalan dengan itu, margin laba kotor perseroan menyusut dari 13,9% menjadi 8,1%. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan belum diikuti kemampuan menghasilkan laba kotor dengan proporsi yang sama.

Dari sisi beban, PTSN mencatatkan beban usaha sebesar US$7,52 juta, naik dari US$7,22 juta pada semester I-2025. Perseroan juga membukukan rugi selisih kurs bersih sebesar US$592.288, berbalik dari keuntungan US$79.324 pada periode sebelumnya.

PBV PTSN

Sementara itu, beban keuangan meningkat menjadi US$794.599 dari US$622.156. Dengan kondisi tersebut, laba sebelum pajak PTSN turun menjadi US$6,13 juta dari US$8,64 juta pada semester I-2025. Setelah dikurangi pajak penghasilan sebesar US$1,44 juta, laba tahun berjalan perseroan tercatat US$4,69 juta.

Pergerakan saha, PTSN turut menjadi perhatian setelah sahamnya menguat tajam. Di mana pada Jumat (23/10/2026), saham PTSN naik 24,46% ke level 346. Kenaikan saham PTSN tersebut terjadi di tengah munculnya wacana pemerintah membagikan ponsel gratis kepada sedikitnya 25 juta warga dewasa yang masuk kelompok desil 1–4.

Rencana tersebut dikaitkan dengan upaya melengkapi rekening digital untuk penyaluran bantuan sosial dan bantuan langsung tunai (BLT). Jika harga per unit Rp1,1 juta saja, maka dibutuhkan biaya pengadaan sekitar Rp27,61 triliun untuk program tersebut. Jumlah ini cukup besar dan akan memberikan keuntungan bagi PTSN.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, PBV di bawah 1 kali tidak serta-merta menunjukkan saham berada dalam kondisi undervalued atau memiliki harga yang lebih rendah daripada nilai wajarnya.

“Mencermati laporan keuangan PTSN per Juni 2026 dan asumsi harga saham Rp346, estimasi PBV PTSN berada di sekitar 0,79 kali. Namun demikian, PBV di bawah 1 kali tidak serta-merta saham tersebut dapat dikatakan undervalued,” ujar Herditya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (23/10/2026).

Menurut dia, penilaian valuasi saham perlu mempertimbangkan perkembangan kinerja keuangan perseroan, terutama kemampuan menjaga margin dan meningkatkan laba. Hal ini menjadi penting karena pertumbuhan pendapatan PTSN pada semester I-2026 belum diikuti perbaikan profitabilitas.

“Menurut kami, valuasi PTSN perlu dicermati bersamaan dengan kemampuan perusahaan menjaga margin, meningkatkan laba, dan memperbaiki arus kas operasional,” katanya.

Baca Juga : Lunasi Hutang, Sat Nusapersada (PTSN) Dapat Fasilitas Kredit $45 Juta dari Bank Mandiri

PBV di bawah 1 kali menunjukkan bahwa saham PTSN diperdagangkan di bawah nilai bukunya berdasarkan asumsi harga yang digunakan. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan kinerja keuangan perseroan, termasuk kemampuan mempertahankan pertumbuhan pendapatan dan memperbaiki profitabilitas.