Kumpul Bareng J.P. Morgan hingga UBS, Bos BEI Ungkap Kondisi Pasar Modal RI
Pasar modal Indonesia mengalami lonjakan signifikan dalam satu dekade terakhir. Hal ini tercermin dari jumlah perusahaan tercatat yang meningkat signifikan yakni mencapai 962 perusahaan.
EBuzz - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar International Capital Market Summit (ICMS) 2026 bertepatan dengan tema “Restoring Global Investor Confidence through Capital Market Reform and International Best Practices” di Main Hall BEI, Jakarta.
Forum strategis yang mempertemukan regulator, pelaku pasar, dan pemangku kepentingan global ini difokuskan untuk membahas arah reformasi pasar modal nasional, perspektif investor global, serta penerapan international best practices.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mencatat bahwa pasar modal Indonesia mengalami lonjakan signifikan dalam satu dekade terakhir. Hal ini tercermin dari jumlah perusahaan tercatat yang meningkat signifikan yakni mencapai 962 perusahaan.
Kemudian, jumlah investor pasar modal tumbuh dari 434 ribu investor menjadi 31,8 juta investor per September 2026. Selain itu, nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp11.100 triliun atau setara US$623 miliar.
"Berbagai pencapaian pasar modal tentunya menjadi hal yang patut kita apresiasi. Namun, saat ini kita memasuki fase yang berbeda. Tantangan kita tidak lagi hanya mengenai bagaimana menumbuhkan pasar, tetapi juga bagaimana memperkuat kualitas, kredibilitas, aksesibilitas, dan daya saing pasar modal Indonesia di tingkat internasional," ujar Jeffrey, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/9/2026). (25/9).
Daya Saing Pasar Modal RI
Lebih lanjut Jeffrey menambahkan, guna memperkuat daya saing tersebut, BEI dan OJK menjalankan agenda reformasi yang mencakup penguatan free float perusahaan tercatat, transparansi data kepemilikan saham, penegakan tata kelola, pendalaman pasar, hingga kolaborasi dengan instrumen hukum dan investor internasional.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan pentingnya kontinuitas reformasi di tengah solidnya indikator makroekonomi nasional, seperti pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang mencapai 5,29% dan kenaikan kredit investasi sebesar 25,13%.
"Di tengah ketidakpastian global, fondasi ekonomi dan keuangan Indonesia tetap kuat. Namun, untuk menjaga dan memperkuat kepercayaan investor, ketahanan ekonomi saja tidak cukup. Diperlukan reformasi yang berkelanjutan, institusi yang kredibel, serta penguatan integritas dan transparansi pasar," tutur Friderica.
Baca Juga : Gelar RUPSLB, BEI Siapkan Aturan Dividen ke Pemegang Saham
Gelaran ICMS 2026 ini turut menghadirkan perwakilan lembaga dan institusi keuangan global seperti J.P. Morgan, UBS, MUFG, Hong Kong Exchanges and Clearing Limited (HKEX), Simpson Thacher & Bartlett LLP, serta Ropes & Gray untuk mendiskusikan alokasi modal emerging markets, tata kelola, dan aksesibilitas pasar.