Sinergi Smartin dan Uhamka Bangun Budaya Investasi Generasi Muda

investasi

Sinergi Smartin dan Uhamka Bangun Budaya Investasi Generasi Muda
Smartin Investment Club di Uhamka
Bacakan Artikel

EBuzz PT Smartin Advisor Sistem (SAS) dan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) berkolaborasi menggulirkan literasi keuangan dan investasi mahasiswa dengan tujuan membangun budaya investasi di generasi muda. Literasi ini juga diharapkan membantu generasi muda lebih berhati-hati dalam berinvestasi melalui strategi 
manajemen risiko. 

Kegiatan ini dilakukan melalui diskusi bertajuk Digital Literacy to Financial Resilience: Membangun Generasi Kritis di Tengah Ekonomi Investasi Digital di Kampus A Limau Uhamka, Jakarta, Kamis (15/10/2026). 

Hadir sebagai narasumber Wakil Dekan Fisip Uhamka sekaligus Dosen Program Studi Ilmu Komunkasi Uhamka Farida Hariyanto, Product Marketing Supervisor Bittime Fini Charista, President Director Smartin Odang Supriatna, Market Expert & Chief Financial Analyst Dupoin Futures Geraldo Kovit, dan Chief Investor Relation Dupoin Futures Dhiraj Kelly Salwani. 

Selanjutnya, Chief Technology Officer Smartin Ervan Chandra, analyst Mind AI haikal Ramadhan, influencer Lely Marthadinata dan influencer Alexander Brian. 

Selain diskusi, pada kesempatan ini, Smartin menghadirkan Smartin Investment Club di Uhamka yang beranggotakan para mahasiswa. Klub ini akan menggulirkan beberapa kegiatan, seperti diskusi rutin investasi saham, kripto, dan futures, lalu kompetisi trading, pelatihan public speaking, dan digital marketing. 

Klub investasi ini menjadi platform literasi keuangan berkelanjutan. Lebih jauh lagi, Smartin Investment Club diharapkan bisa melahirkan talenta baru untuk memperkuat ekosistem industri keuangan Indonesia, mulai dari perdagangan saham, kripto, futures, bahkan sektor perbankan dan asuransi. Dupoin Futures memberikan dukungan penuh terhadap literasi keuangan dan investasi yang diselenggarakan oleh Smartin, khususnya dengan Uhamka. 

Uhamka dipilih sebagai tempat kegiatan literasi, karena minat investasi mahasiswanya sangat tinggi, tetapi aksi masih terbatas. Berdasarkan hasil survey terhadap mahasiswa Uhamka, mayoritas responden sepakat investasi harus dilakukan sejak usia muda. Universitas milik Muhammdiyah, organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar kedua di Indonesia dengan anggota lebih dari 60 juta orang, tersebut juga terbuka untuk literasi investasi. Maklum, sebanyak 40% responden mengaku berencana untuk berinvestasi.

Tetapi, hasil survey memerlihatkan, mayoritas mahasiswa alias 45% belum memiliki instrumen investasi. Sebanyak 15% sudah punya investasi dan 40% berencana untuk berinvestasi. Mereka yang sudah berinvestasi di saham maupun di futures dan aset digital mayoritas memanfaatkan teknologi untuk mitigasi risiko (50%).

Mereka yang tidak melakukan trading atau investasi digital dipicu oleh beberapa faktor, yakni 60% karena belum tahu peluang yang ada, belum ada modal 35%, dan menilai trading tidak halal 5%. Terpenting, mayoritas mahasiswa mengaku bahwa perlu ada klub investasi, yakni 75%, sedangkan hanya 5% yang merasa tidak perlu klub tersebut. Sisanya, 20% mengaku tidak tahu.

"Kami menggelar literasi investasi bagi intelektual muda agar dapat membantu mereka lebih prudent dalam berinvestasi. Selain itu, kami membangun budaya berinvestasi lewat kehadiran Uhamka-Smartin Investment Club yang beranggotakan para mahasiswa," ujar Philip Chan, chief business officer (CBO) Dupoin Group International dalam acara itu. 

Philip juga meresmikan kehadiran Smartin Investment Club di Uhamka. Sesuai rencana, Dupoin dan Smartin akan membentuk klub investasi serupa di sejumlah universitas.  

Philip menyatakan, literasi keuangan dan investasi sangat penting di era saat ini. Oleh sebab itu, Dupoin mendukung inisiatif Smartin menggelar literasi sekaligus mendirikan klub investasi di Uhamka. Fasilitas ini bisa dimanfaatkan para mahasiswa untuk belajar dan praktik investasi yang bakal bermanfaat kala memasuki dunia kerja. 

Klub investasi ini, kata dia, diharapkan bisa melahirkan talenta-talenta baru di sektor keuangan. Mereka bisa diserap oleh perusahaan pialang berjangka resmi seperti Dupoin, lalu industri asuransi, perbankan, hingga Bittime. 

“Kita beri kesempatan mahasiswa untuk mempraktikkan pengetahuan di klub investasi sebelum mereka terjun ke dunia kerja. Jadi, saya mengimbau mahasiswa terus belajar investasi dan dijadikan kebiasaan,” ujar dia.  

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan  Ilmu Politik Uhamka Tellys Corliana menyatakan, kegiatan ini merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan ilmu dari luar kelas. Pada prinsipnya, literasi dapat membuat mahasiswa lebih kritis dalam menyikapi dunia digital yang berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.  

“Teknologi digital itu ibarat senjata bermata dua, yakni bisa bermanfaat, tapi kalau salah, menjadi sumber kesesatan. Selama ini, investasi digital banyak yang menggiurkan, seolah-olah bisa menjadi cara untuk cepat kaya. Padahal, ini harus dikritisi,” ujar dia. 

Uhamka, kata dia, memiliki mata kuliah literasi digital. Kegiatan literasi keuangan dan digital Smartin diharapkan melengkapi mata kuliah ini. Mahasiswa juga bisa langsung menerapkan pengetahuan dari kegiatan ini klub invetsasi. 

Peluang Karir 

Odang Supriatna menuturkan, kegiatan literasi ini sangat bermanfaat, karena melibatkan beberapa pelaku pasar sekaligus akademisi, influencer, dan praktisi media sosial. Dengan demikian, peserta tidak saja disuguhi ilmu berkaitan dengan industri perdagangan berjangka komoditas (PBK), namun diberikan kesadaran (awareness) bahwa industri ini memberi peluang menjadi analis, influencer, digital marketing, trader, dan advicer. 

Manfaat lainnya, kata dia, peserta mendapatkan pembekalan bahwa untuk menjadi pelaku pasar di industri PBK, memerlukan pengetahuan (knowledge), keahlian dan pengalaman yang memadai. Peserta diberi kesempatan belajar di SAS untuk mendapatkan hal tersebut.  

“Bagi lembaga pendidikan, khususnya untuk jurusan ekonomi dan TI, kegiatan ini memberikan gambaran apa yang menjadi kebutuhan bisnis di bidang investasi dan tekhnologi Informasi” ujar dia. 

Geraldo Kovit menuturkan, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan literasi digital dan literasi keuangan generasi muda, khususnya dalam memahami peluang dan risiko di tengah perkembangan ekonomi digital. Generasi muda tidak cukup hanya memiliki akses terhadap teknologi dan berbagai instrumen investasi, tetapi juga perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, memahami risiko, serta mengambil keputusan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab. 

“Harapannya, melalui edukasi ini, mahasiswa dapat menjadi generasi yang lebih cerdas dalam memanfaatkan teknologi, tidak mudah terjebak dalam investasi ilegal atau keputusan impulsif, serta mampu membangun ketahanan finansial untuk masa depan,” ujar dia. 

Dhiraj Kelly Salwani menuturkan, Smartin menggelar literasi investasi agar mahasiswa bisa mulai mengurangi pengeluaran dan mengalokasikannya ke investasi. Dia lantas beberapa prinsip investasi.. 

Contohnya, kata dia, bangun dana aman sebelum mengejar return. Lalu, instrumen harus sesuai tujuan, bukan tren. Terakhir, cek lima hal sebelum menempatkan uang, yakni legalitas izin dan otoritas produk/broker, tujuan, risiko, biaya, dan bukti. 

“Intinya lindungi dulu modalmu, jangan langsung ingin cepat kaya,” kata dia. 

Fini Charista menekankan pentingnya literasi sebelum terjun langsung ke dunia investasi dan trading. Sebab, tanpa literasi yang memadai, potensi merugi saat berinvestasi atau trading sangat besar. 

Kalau kita melihat perkembangan saat ini, dia menuturkan, pilihan aset digital semakin beragam. Ada aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum, kemudian ada perkembangan tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA), yaitu upaya merepresentasikan aset dunia nyata dalam bentuk token digital.

Setiap aset, kata dia, memiliki karakteristik yang berbeda. Ada yang lebih dikenal sebagai aset investasi, ada yang memiliki fungsi dalam ekosistem teknologi tertentu, dan ada juga produk yang memberikan eksposur terhadap pergerakan harga aset.

Namun, dia menyatakan, semakin banyak pilihan, bukan berarti semuanya cocok untuk setiap orang. Intinya, investor tetap perlu memahami fungsi aset, cara kerjanya, serta risiko yang mungkin terjadi. Jadi, peluang investasi sebaiknya dilihat dari pemahaman terhadap aset tersebut, bukan hanya karena asetnya sedang populer atau harganya sedang naik.

“Menurut saya, kita tidak bisa menilai suatu aset hanya dari kenaikan harganya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih aset digita, seperti fungsi aset tersebut, likuiditas dan volatilitas, dan aspek keamanan dan pastikan platform yang digunakan memenuhi ketentuan yang berlaku,” ujar dia.

Hal yang tidak kalah penting, dia menyatakan, harus dipahami aset yang dibeli. Jangan hanya ikut rekomendasi orang lain atau membeli karena takut ketinggalan tren. Tidak ada aset yang bisa dijamin selalu naik, sehingga keputusan investasi harus dibuat dengan mempertimbangkan risiko yang sanggup kita tanggung.

Farida Hariyanto menyatakan, manajemen risiko adalah bagian dari literasi sebelum trading dan investasi. Selain itu, usahakan berinvestasi dengan uang dingin, bukan untuk kebutuhan pokok, seperti bayaran dan jatah bulanan keluarga.

“Mahasiswa Uhamka sudah mendapatkan bekal banyak dari para ahli dalam kegiatan literasi keuangan Smartin,” ujar dia.