EPAC Tutup Pabrik Konvensional, Alihkan Fokus ke Kemasan Digital
EBuzz - PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC) menyiapkan langkah penyehatan keuangan dengan menghentikan operasional fasilitas produksi konvensional MES dan memusatkan bisnis kemasan fleksibel pada platform digital melalui PT Epac Flexibles Indonesia (EFI). Perseroan juga menyiapkan ekspansi fasilitas digital ke Surabaya pada 2027 serta mengajukan persetujuan buyback dan rights issue dalam RUPSLB pada 3 November 2026.
Manajemen EPAC menyampaikan rencana itu dalam keterangan resmi, Selasa (6/10/2026). Perseroan menargetkan langkah ini mengurangi beban produksi konvensional, memperbesar kapasitas kemasan digital, dan memperkuat struktur permodalan.
Fasilitas MES Berhenti Paling Lambat 31 Desember 2026
Manajemen merencanakan penghentian operasional fasilitas konvensional MES paling lambat 31 Desember 2026. Langkah ini bertujuan menekan beban kinerja konsolidasi dan memfokuskan bisnis kemasan fleksibel pada platform digital EFI.
"Penghentian yang dimaksud adalah operasional fasilitas produksi konvensional, sementara kegiatan usaha grup tetap dilanjutkan melalui bisnis digital," kata manajemen EPAC.
Simulasi Proforma Balikkan Rugi Jadi Laba
Perseroan memaparkan dampak penghentian MES lewat perbandingan kinerja aktual dan proforma hingga kuartal II 2026. Bila MES berhenti beroperasi sejak awal tahun, rugi bersih konsolidasi sekitar Rp2,8 miliar berbalik menjadi laba bersih sekitar Rp1,7 miliar secara proforma. Laba per saham (earning per share/EPS) proforma mencapai sekitar Rp0,51.
Manajemen menegaskan angka tersebut merupakan simulasi proforma dan tidak mengubah hasil aktual yang telah dilaporkan.
Ekspansi Digital ke Surabaya pada 2027
Melalui EFI, EPAC merencanakan fasilitas produksi digital baru di Surabaya pada 2027. Fasilitas itu melengkapi pabrik yang sudah beroperasi di Tangerang. Perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan tahunan sekitar 15% hingga 2028.
Berdasarkan proyeksi yang memperhitungkan diskontinu MES dan ekspansi tersebut, manajemen memperkirakan penjualan mencapai Rp197 miliar pada 2027 dan Rp304,92 miliar pada 2030. Laba bersih diproyeksikan naik dari Rp14,179 miliar menjadi Rp42,263 miliar pada periode yang sama. Realisasi proyeksi bergantung pada ekspansi, permintaan pelanggan, biaya produksi, pendanaan, dan kondisi usaha.
Estimasi Nilai Wajar Rp163 per Saham
Berdasarkan proyeksi kinerja 2027 hingga 2030, EPAC mengungkapkan estimasi nilai wajar saham sebesar Rp163 per saham. Perseroan menggunakan kombinasi metode discounted cash flow (DCF) dan multiple EBITDA. Estimasi ini memperhitungkan diskontinu MES sekaligus ekspansi digital.
Manajemen menekankan angka itu berbasis proyeksi. Nilai tersebut bukan harga pasar, bukan harga pelaksanaan rights issue, dan bukan jaminan nilai saham di masa depan.
Rights Issue hingga 2 Miliar Saham Baru
EPAC akan meminta persetujuan pemegang saham atas Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PMHMETD I) atau rights issue, serta pembelian kembali saham (buyback). Perseroan mengumumkan RUPSLB dan keterbukaan informasi kedua rencana itu pada 25 September 2026. RUPSLB berlangsung pada 3 November 2026.
Lewat PMHMETD I, EPAC berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 2.000.000.000 saham baru. Perseroan akan menggunakan dana hasil emisi, setelah dikurangi biaya emisi, untuk belanja modal pengembangan usaha, pengurangan sebagian utang terutama utang bank, dan modal kerja. Harga pelaksanaan, rasio HMETD, dan jumlah dana yang diperoleh belum ditetapkan. Perseroan akan menyampaikan seluruh rincian itu dalam prospektus.