BUMI Garap Proyek Gasifikasi Batu Bara di Kaltim, Produksi Metanol 2 Juta Ton
Unit usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui PT Bumi Etam Chemical (BEC) memulai pembangunan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
EBuzz - Unit usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui PT Bumi Etam Chemical (BEC) memulai pembangunan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Proyek tersebut dikembangkan BEC, perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), yang merupakan anak usaha BUMI. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek strategis nasional (PSN) gasifikasi batu bara menjadi metanol dilakukan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur.
Proyek tersebut dibangun di atas lahan sekitar 93 hektare dengan target kapasitas produksi sekitar 2 juta ton metanol per tahun.
Untuk mencapai kapasitas produksi tersebut, proyek BEC diperkirakan membutuhkan batu bara sekitar 7,70 juta hingga 7,78 juta ton per tahun dengan kalori sekitar 3.400 kilokalori per kilogram.
Metanol yang dihasilkan akan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri domestik, khususnya sektor petrokimia dan formaldehida. Produk tersebut juga akan mendukung pengembangan fatty acid methyl ester (FAME) dan program B50.
Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan pembangunan proyek tersebut diharapkan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi dan industri pendukung. Menurutnya, Kementerian ESDM mencatat Indonesia masih mengimpor sekitar 1,3 juta ton metanol sepanjang 2025 dengan nilai mencapai Rp7,1 triliun.
"Kami berharap dengan proyek yang memberikan multiplier effect yang nyata bagi seluruh stakeholder baik penciptaan lapangan kerja tumbuhnya industri pendukung serta peningkatan aktivitas ekonomi," ujar Yuliot dalam siaran pers Kementerian ESDM, Senin (31/8/2026). (1/9).
Kapasitas Produksi Capai 2 Juta Ton
Dengan kapasitas produksi sekitar 2 juta ton per tahun, proyek BEC ditargetkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor metanol sekaligus berpotensi menghemat devisa hingga Rp7,1 triliun per tahun.
Yuliot mengatakan proyek gasifikasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, serta mendorong ketahanan dan kemandirian energi nasional.
"Proyek BEC akan dilengkapi sejumlah fasilitas, antara lain fasilitas gasifikasi, reaktor sintesis, pembangkit listrik, pengolahan air, dan terminal pelabuhan. Fasilitas tersebut juga disiapkan dengan teknologi untuk mengendalikan emisi dan terintegrasi dengan carbon capture and storage (CCS)," sambungnya.
Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan proyek saat ini telah memasuki tahap engineering melalui penyusunan Front-End Engineering Design (FEED) serta Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement.
Penyusunan tersebut dilakukan bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) sejak 29 Juli 2026.